PICK Chart

- - Lean Six Sigma

PICK Chart adalah salah satu tools dari Lean Six Sigma yang telah dikembangkan oleh Lockheed Martin untuk mengorganisir ide-ide improvement proses dan mengkategorikan ide tersebut selama kita mengidentifikasi dan memprioritaskan fase peluang (Identify and Prioritize Opportunities Phase) dari sebuah proyek Lean Six Sigma.

Berikut kami berikan contoh PICK chart sederhana :

 

Pay off Low

Pay off High

Easy to do Possible Implement
Hard to do Kill Challenge

Continue Reading

Apakah Anda Menggunakan Bahasa yang Sama?

Seorang manajer produksi di suatu perusahaan tekstil mengumpulkan anak buahnya untuk sebuah rapat harian. Tepat sehari setelah sang manajer ini menyelesaikan program pelatihan six sigmanya.

“Tono saya hitung sigma level kamu rendah sekali, process capability-nya pun kurang dari satu! Pantas throughput kamu tidak pernah mencapai target!”

“Sugeng kamu bilang bahwa telah terjadi peningkatan output di proses  yang kamu pegang. Saya sudah melakukan hypothesis testing. Ternyata kamu pembohong!”

“kita akan lakukan six sigma project untuk semua permasalahan yang terjadi. Kalian berdua buat charternya, dan saya minta juga sekalian buat dashboardnya”

Sekian – rapat bubar!”

Pak Manajer keluar ruangan meninggalkan Tono dan Sugeng yang  tidak memahami sedikit pun apa yang keluar dari mulut pak manajer tersebut. Tono dan Sugeng meyakini bahwa hari ini pak Manajer telah kesurupan dan mereka berdua tetap bekerja seperti biasa.

Contoh di atas memang terlihat hiperbolik, namun kasus seperti ini umum terjadi.

Jika saat ini anda adalah orang yang ditunjuk sebagai penanggung jawab program inisiatif perbaikan, isu terbesar yang anda hadapi adalah bagaimana menjaga Continue Reading

Mitos – Mitos dalam Six Sigma

Mitos atau mite (myth) adalah cerita yang dipercaya atau dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita atau penganutnya. Seperti layaknya mitos, orang lebih senang mendiskusikan dan memperdebatkannya daripada  mencari kebenarannya. Apa saja mitos yang melingkupi Six Sigma? mari kita ulas kebenarannya.

Mitos 1 : Six Sigma adalah Kerupuk yang sama dalam Toples yang berbeda

Kegiatan manusia untuk menemukan sistem yang lebih baik sudah ada sejak jaman dulu  ketika  Sloan mengembangkan sistem Continue Reading

Lean Six Sigma Green Belt – Accelerated 6-Day Training

Date: 20-22 Mar 2012 (Week 1) and 23-25 Apr 2012 (Week 2)

Program ini mempersiapkan Anda untuk mengeksekusi proyek Lean Six Sigma dengan kompleksitas sederhana hingga menengah ataupun mendukung Black Belt dalam proyek-proyek mereka, dengan menggunakan metodologi Lean Six Sigma untuk mendorong perbaikan kunci dalam proses serta memastikan keunggulan operasional.

Tujuan utama Program Green Belt ini adalah untuk memberikan Body of Knowledge Green Belts kepada peserta, termasuk tujuan, tools, dan deliverables untuk setiap tahap DMAIC. Program ini juga akan mengajarkan kepada peserta bagaimana mengelola sebuah proyek Lean Six Sigma.

Pelatihan Six Sigma Green Belt SSCX International telah diikuti perusahaan-perusahaan seperti CIMB Niaga, ANZ Panin, Voith Paper, April, Vale INCO, BRI Syariah, Freeport Indonesia, Astra Honda Motor, dan masih banyak lagi.

Program ini akan dipandu oleh beberapa instruktur paling berpengalaman dalam Lean Six Sigma yang akan berbagi pengalaman implementasi Lean Six Sigma. Informasi lebih lanjut hubungi tim kami di +62 21 5763020.
Pelatihan ini juga dapat diselenggarakan di perusahaan Anda (in-house).

Pelatihan Lean di Jakarta

Pelatihan Lean adalah pelatihan yang membahas mengenai bagaimana mengimplementasikan Lean Manufacturing di organsiasi kita.  Pelatihan Lean biasanya menjelaskan mulai dari prinsip dan konsep dari Lean Manufacturing, Lean Service, hingga pada penggunaan tools atau alat. Di Indonesia,  pelatihan lean diadakan mulai dari durasi 2 jam (lebih tepat disebut briefing) hingga beberapa hari.

Pelatihan Lean Overview

Pelatihan Lean Overview umumnya berdurasi 2 jam hingga 2 hari mencakup pemahaman akan prinsip dan konsep Lean seperti tergambar pada ilustrasi di atas. Dalam pelatihan ini peserta akan diajak memahami tujuan dari Lean hingga bagaimana cara mencapainya. Tujuan dari Lean Manufacturing ini sendiri adalah highest quality, lowest cost, shortest lead time.Tools atau alat akan dibahas mengenai objektifnya sehingga peserta bisa memahami hubungan antara Continue Reading

Metodologi Six Sigma : ANALYZE

Setelah kita mengumpulkan data, memvisualkan, mendapatkan baseline dan sigma level di fase Measure, langkah selanjutnya adalah fase Analyze. Tujuan di fase analyze ini kita akan menetapkan akar masalah (x’s) yang memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Y.

Berikut adalah langkah-langkah utama dari fase Analyze:

•  Identifikasi x (akar masalah) – langkah ini untuk mencari kemungkinkan penyebab masalah (x) yang memiliki pengaruh pada y. Pada langkah ini brainstorming adalah alat yang paling efektif, untuk mempermudah proses brainstorming, tool yang dipakai adalah: Fishbone, 5 Why, dan NGT
•   Prioritas X – langkah ini untuk mempersempit cakupan x yang akan dianalisa oleh tim. X yang akan diprioritaskan adalah yang memiliki pengaruh signifikan pada y.Tool yang dipakai untuk memprioritaskan X adalah Prioritization Matrix
•   Validasi X – Dalam memvalidasi X terdapat dua cara/ pintu, yang pertama adalah pintu proses, yang kedua adalah pintu data. Berikut penjelasannya:

Konsultan Lean Six Sigma

- - Six Sigma

Konsultan Lean Six Sigma adalah mereka yang biasanya memiliki pengalaman dalam implementasi Lean Six Sigma di perusahaan-perusahaan lain. Umumnya, konsultan lean six sigma menawarkan pengalaman mereka selama ini ke calon klien mereka. Perbedaan antara satu konsultan ke konsultan lain adalah pengalaman mereka dalam training dan coaching untuk Lean Six Sigma, pendekatan yang mereka gunakan, pengalaman implementasi dari awal, kemudian bahan pelatihan dan komitmen waktu.

Pengalaman training dan coaching untuk Lean Six Sigma juga harus dilihat apakah mereka hanya menggunakan DMAIC ataukah termasuk DFSS. Kita juga harus memperhatikan role atau peran mereka sebelumnya, apakah hanya Green Belt atau bagaimana?

Sertifikasi untuk kompetensi walau tidak mandatory tetapi sedikit banyak bisa memberi gambaran kompetensi konsultan lean six sigma. Sertifikasi Lean Six Sigma cukup banyak ditawarkan, perhatikan kredibilitas badan sertifikasi. Kompetensi pelatihan atau training adalah Continue Reading

Kenapa Organisasi Membutuhkan Black Belt?

- - Belt, Six Sigma

Dunia Persepakbolaaan Indonesia kembali menarik perhatian sebagian masyarakat awam, meskipun tidak memenangkan kejuaraan piala AFF, menurut beberapa pengamat sepakbola apa yang ditampilkan oleh timnas saat ini lebih hidup.

Efektifitas serangan Indonesia atas lawan-lawannya tidak lepas dari peran seorang gelandang serang yang juga seorang kapten Firman Utina. Firman Utina  mampu membagi  serangan timnas dari berbagai sisi secara kreatif dan simultan. Pertanyaannya adalah, apa yang terjadi jika Indonesia tanpa Firman?

Jawabannya mungkin Indonesia masih bisa menang, namun apakah bisa setrengginas saat ini? apakah paduan serangan dan kedisiplinan pertahanan bisa sesolid saat ini? pada Firman jaminan pengatur serangan timnas dibebankan

Tidak berbeda pada tingkat organisasi, keberadaan seorang Black Belt adalah jaminan meningkatnya kinerja perusahaan. Black Belt diperlukan, apabila organisasi menginginkan “kemenangan” yang lebih signifikan, ukuran keberhasilan seorang Black Belt  bisa diukur dengan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk kembali ke titik impas investasi, tingkat penyelesaian proyek, total dan rata-rata nilai finansial menyelesaikan proyek Six Sigma, dan rata-rata waktu penyelesaian proyek. Unsur-unsur inilah yang dipakai untuk mengukur seberapa besar tingkat efektifitas seorang mobilisator dalam program Six Sigma (dalam hal ini Black Belt)

Berikut ini adalah beberapa keuntungan organisasi memiliki seorang Black Belt:

  • Black Belt memiliki kontribusi yang nyata terhadap keuntungan perusahaan. Proyek perbaikan yang dikerjakan seorang Black Belt dapat terhubung langsung dengan strategi  bisnis perusahan.
  • Black Belt memiliki perspektif yang luas. Dia mampu melihat apa yang benar-benar diinginkan oleh pelanggan dan mampu menerjemahkannya dalam critical to Quality. Seorang Black Belt mampu bekerja lintas fungsi dan mendobrak silo-silo perusahaan untuk  menghasilkan kepuasan pelanggan.
  • Selain keahlian teknis dalam menganalisa data dan metodologi six sigma, Black Belt juga mempunyai soft skill dalam memobilisasi atau memotivasi orang-orang yang tepat, pada waktu yang tepat dan cara yang benar.  Dia mampu memobilisasi diri sendiri, anggota tim, dan stakeholder untuk menuju tujuan yang diharapkan bersama.

Kebutuhan seorang Black Belt dalam Organisasi tergantung pada niat organisasi tersebut terhadap program perbaikan yang dimiliki saat ini.  Ibarat sebuah klub yang rela merogoh kantong lebih dalam demi mendapatkan pemain bintang, Black Belt dapat diharapkan menjadi motor penggerak perubahan dalam organisasi. Bedanya Black Belt dan pemain bintang dalam klub sepakbola adalah target! Anda berhak menuntut berapa gol (benefit) yang harus dijaringkan dalam setiap Black Belt “berlaga” mengerjakan proyek perbaikan.

sumber gambar: www.mi-yamaryu.com/