Lean Six Sigma – Integrasi Lean dan Six Sigma

Salah satu pertanyaan yang paling sering ditanyakan adalah mana yang duluan, Lean ataukah Six Sigma? Kita tidak perlu memilih salah satu karena keduanya sebenarnya dapat dijalankan bersamaan. Tentu saja jika menjalankannya secara terpisah hanya akan membuat konsentrasi dan sumber daya terpecah yang akhirnya malah membuat implementasi dari Lean maupun Six Sigma tidak memberi hasil sesuai harapan. Integrasi berbeda dengan menjalankan 2 hal sekaligus. Integrasi adalah menjalankan Lean dan Six Sigma dalam satu framework yang disebut Lean Six Sigma.

Integrasi antara Lean dan Six Sigma akan memberi banyak manfaat, diantaranya: Continue Reading

Kaizen dalam Six Sigma

Dalam artikel sebelumnya kita membahas tentang bagaimana meningkatkan efisiensi secara cepat dengan Kaizen Blitz. Sekarang,  kita akan membahas Kaizen lebih dalam.

Dalam berbagai forum, banyak diskusi hangat tentang lebih baik mana Kaizen dengan Six Sigma?  Menurut kami, pertanyaan tersebut sama dengan ketika anda bertanya lebih bagus mana martil sama obeng? Ngga’ nyambung, karena mereka berbeda kegunaanya.

Jika anda menginginkan buah Apel. Manakah yang anda ambil terlebih dahulu? Jika anda menjawab yang di pucuk pohon kami tidak menyalahkan namun pertanyaannya adalah kenapa anda susah-susah untuk mendapatkan buah yang ada di pucuk, padahal dengan usaha yang lebih sedikit, anda bisa mendapatkan apel yang ada di bawah. Logikanya adalah, habiskan dulu yang ada di bawah, kemudian baru naik ke atas.

Begitu juga ketika organisasi anda ingin meningkatkan kinerja, berdasarkan prinsip ekonomi bagaimana dengan usaha yang sedikit kita mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya.

Menurut Masaaki Imai, esensi dari Kaizen adalah Continue Reading

Taguchi Loss Function

- - Analyze, Improve, Lean Six Sigma

Definisi yang cukup sederhana dari Taguchi Loss Function ini adalah sebuah cara untuk menunjukkan bagaimana masing-masing bagian yang tidak sempurna bekerja. Hasil dari Taguchi Loss Function ini merepresentasikan rugi-rugi yang dialami oleh perusahaan. Sedangkan definisi teknik dari Taguchi Loss function adalah sebuah representasi parabolic yang mengestimasikan quality loss, diekspresikan secara moneter, yang dihasilkan ketika karakteristik kualitas menyimpang dari target value. Cost dari penyimpangan ini meningkat secara eksponensial sebanding dengan menjauhnya karakteristik dari target value.

Anda dapat memahami Taguchi Loss Method dengan melihat grafik berikut ini :

Continue Reading

Metodologi Six Sigma: CONTROL

- - Control

Hal yang terpenting dalam melakukan Six Sigma terletak pada fase ini, CONTROL. Mempertahankan kemenangan memang lebih susah ketika kita mendapatkannya. Tujuan dari fase ini adalah memastikan implementasi menyeluruh dapat berjalan baik, sustainable (berke-sinambungan). Fase Control ini juga menjadi akhir dari keterlibatan aktif Tim dalam proyek.

Apa saja langkah-langkah utama dalam fase ini? Berikut penjelasannya:

  • Memastikan sustainability dari perbaikan – untuk bisa membuat proses perbaikan proses berjalan sesuai dengan yang diharapkan dalam jangka panjang, maka penting bagi kita untuk membuat sistem yang bisa meminimasi terjadinya kesalahan, atau dengan menciptakan mistake-proofing agar permasalahan yang sama tidak muncul.
  • Mengukur dan mengkomunikasikan hasil – setelah implementasi berjalan baik, hasil perbaikan terus diukur dan dipantau. Untuk lebih memudahkan proses pemantauan perlu kita buat sebuah dashboard monitoring hasil perbaikan yang berfungsi sebagai alat komunikasi tim kepada Steering Committee maupun kepada anggota organisasi lain terhadap profil dari output utama dari proyek perbaikan yang sudah selesai dijalankan
  • SOP dan Control Plan – Membahas bagaimana cara menyusun Process Control Plan (reaction plan), menciptakan alat mistake proofing, hingga menyusun SOP untuk sustainability dari perbaikan yang telah dilakukan
  • Serah Terima kepada Process Owner (pemilik proses) – langkah ini termasuk mengkomunikasikan SOP dan Control Plan.
  • Control Gate Review Pertemuan dengan Project Sponsor, Business Leadership, dan pihak terkait lainnya untuk memastikan alignment dari fokus proyek dan ekspektasi manajemen dan penyampaian progres akhir dan serah terima proyek

Sedangkan hal-hal yang perlu diselesaikan ketika masuk dalam fase ini adalah Continue Reading

Control Chart – Part 2 – Interpretasi Peta Kendali

Menginterpretasikan Control Chart

Beberapa dari anda mungkin telah familiar dengan control chart, berikut tipe dan penggunaannya. Sebagai Process Owner, anda harus mampu menginterpretasi control chart dengan tepat, karena chart akan menunjukkan tindakan apa yang perlu atau tidak perlu dilakukan.

Variasi akan selalu ada dalam proses. Tugas anda adalah memisahkan variasi-variasi tersebut kedalam dua kategori, yaitu Cause dan Special Cause. Lalu gunakan garis tengah (mean), batasan kontrol, dan plot data untuk membentuk interpretasi anda.

Kesalahan yang sering dilakukan oleh para Process Owner adalah memerintahkan timnya untuk membuat banyak control chart. Ketika tembok mereka telah dipenuhi oleh banyak chart yang bagus, tidak ada orang yang bertanggung jawab untuk menginterpretasi dan mengambil tindakan berdasarkan chart tersebut. Bertindak berdasarkan satu chart akan jauh lebih baik daripada tembok yang dipenuhi banyak chart yang tidak fungsional.

Bagaimana Menginterpretasi Sebuah Control Chart?

Mengapa interpretasi control chart menjadi hal yang penting? Salah satu alasan utamanya adalah karena tindakan-tindakan yang anda ambil di masa depan akan didasarkan kepada interpretasi ini.

Bagan berikut ini akan membantu anda menginterpretasi dengan cara yang benar, khususnya dalam mengambil keputusan mengenai tindakan-tindakan yang berkaitan dengan proses:

Seperti yang terlihat pada bagan, Special Cause atau Special Cause membutuhkan tindakan yang khusus, sementara Common Cause atau Common Cause membutuhkan tindakan berdasarkan metodologi Lean Six Sigma, berupa improvement.

Control Chart – Part 1

Apa itu Control Chart?

Contol chart akan memberitahu anda, apa yang dapat diharapkan dari sebuah proses. Tool ini juga akan membantu anda mengetahui jika ada hal-hal yang menyimpang dalam proses, sehingga anda bisa langsung mengambil tindakan dan mengembalikan proses pada jalur yang benar. Misalnya, jika anda memiliki variasi dalam proses, apakah variasi tersebut terjadi secara alami dan terprediksi, atau apakah ada sesuatu yang salah, yang membutuhkan investigasi lanjutan?

Tool control chart akan membantu Process Owner keluar dari kebiasaan buruk, yaitu hanya mengambil tindakan berdasarkan data-data terbaru saja. Jika anda hanya melihat data-data terbaru, info yang anda dapatkan tidak akan cukup lengkap untuk menghasilkan keputusan yang baik.

Tool ini juga akan memberitahu anda, kapan untuk melakukan investigasi lanjutan atas sebuah penyimpangan, dan kapan anda bisa membiarkannya saja. Singkatnya, control chart akan membantu anda untuk lebih produktif dan menghindari waktu dan energi terbuang untuk hal-hal yang tidak perlu.

Bentuk dan Tipe Control Chart

Pada control chat dalam bentuk umum, kita akan melakukan perencanaan kinerja proses dalam bentuk grafik. Chart akan memiliki tiga garis: UCL (Upper Control Limit), Mean (nilai rata-rata), dan LCL (Lower Control Limit). Jika data anda masih berada didalam batas 3 garis ini, maka dapat diasumsikan tidak ada masalah yang berarti dalam proses anda pada saat ini.

Dalam keluarga control chart, terdapat banyak tipe dan rupa yang dapat anda temukan. Beberapa diantaranya adalah:

  • Individual Control Charts
  • I & MR Control Charts
  • X-Bar & S Charts
  • X-Bar & R Charts
  • P-Charts
  • U-Charts

Untungnya, semua control charts tersebut memiliki format 3 garis yang sama: garis tengah, UCL dan LCL. Tujuan dari pembuatan semua control chart tersebut adalah membuat plotting data sehingga anda bisa langsung melihat kasus-Special Cause yang terjadi dalam proses, jika ada. Tujuannya adalah, tentu saja, untuk mengambil keputusan mengenai tindakan-tidakan yang perlu dilakukan.

Semua jenis chart tersebut sama-sama menyajikan data mengenai kinerja proses dari waktu ke waktu. Perbedaannya terletak pada perhitungan limit untuk tipe-tipe data yang berbeda.

Sumber: www.shiftindonesia.com

5-Why Analysis

Why-Why Analysis adalah alat bantu (tool) root cause analysis untuk problem solving.  Tool ini membantu mengidentifikasi akar masalah atau penyebab dari sebuah ketidaksesuaian pada proses atau produk.
Why-Why Analysis atau 5 Why’s Analysis biasa digunakan bersama dengan Diagram Tulang Ikan (Fishbone Diagram) dan menggunakan teknik iterasi dengan bertanya MENGAPA (Why) dan diulang beberapa kali sampai menemukan akar masalahnya.
Contohnya sebagai berikut:
Masalah: Mesin Breakdown/Rusak.
  1. Mengapa? Komponen automator tidak berfungsi.
  2. Mengapa tidak berfungsi? Usia komponen sudah melebihi batas lifetime 12 bulan.
  3. Mengapa tidak diganti saat mencapai batas tersebut? Tidak ada yang tahu batas lifetime komponen tersebut.
  4. Mengapa tidak ada yang tahu? Tidak ada pencatatan data penggantian komponen.
  5. Mengapa tidak ada pencatatan? Nah, sebenarnya kita telah tiba pada salah satu potensi akar masalah, yaitu tidak adanya pencatatan data penggantian komponen.

Untuk sampai pada pada akar masalah, bisa pada pertanyaan kelima atau bahkan bisa lebih atau kurang tergantung dari tipe masalahnya.

Tahapan umum saat melakukan root cause analysis dengan why why analysis:

  1. Menentukan masalahnya dan area masalahnya
  2. Mengumpulkan tim untuk brainstorming sehingga kita bisa memiliki berbagai pandangan, pengetahuan, pengalaman, dan pendekatan yang berbeda terhadap masalah
  3. Melakukan gemba (turun ke lapangan) untuk melihat area aktual, obyek aktual, dengan data aktual.
  4. Mulai bertanya menggunakan Why Why
  5. Setelah sampai pada akar masalah, ujilah setiap jawaban dari yang terbawah apakah jawaban tersebut akan berdampak pada akibat di level atasnya. Contoh: apakah jika kita memiliki pencatatan penggantian komponen maka akan mudah bagi Tim Maintenance untuk melakukan penggantian komponen secara rutin? Apakah hal tersebut paling masuk akal dalam menyebabkan dampak di level atasnya? Apakah ada alternatif kemungkinan penyebab lainnya?
  6. Pada umumnya solusi tidak mengarah pada menyalahkan ke orang tapi bagaimana cara melakukan perbaikan sistem atau prosedur.
  7. Jika akar penyebab sudah diketahui maka segera identifikasi dan implementasikan solusinya.
  8. Monitor terus kinerjanya untuk memastikan bahwa masalah tersebut tidak terulang lagi.

Artikel 5-Why Analysis ini sudah dipublikasikan di Shift Edisi Mei-Juni 2011.

 

Pelatihan Lean di Jakarta

Pelatihan Lean adalah pelatihan yang membahas mengenai bagaimana mengimplementasikan Lean Manufacturing di organsiasi kita.  Pelatihan Lean biasanya menjelaskan mulai dari prinsip dan konsep dari Lean Manufacturing, Lean Service, hingga pada penggunaan tools atau alat. Di Indonesia,  pelatihan lean diadakan mulai dari durasi 2 jam (lebih tepat disebut briefing) hingga beberapa hari.

Pelatihan Lean Overview

Pelatihan Lean Overview umumnya berdurasi 2 jam hingga 2 hari mencakup pemahaman akan prinsip dan konsep Lean seperti tergambar pada ilustrasi di atas. Dalam pelatihan ini peserta akan diajak memahami tujuan dari Lean hingga bagaimana cara mencapainya. Tujuan dari Lean Manufacturing ini sendiri adalah highest quality, lowest cost, shortest lead time.Tools atau alat akan dibahas mengenai objektifnya sehingga peserta bisa memahami hubungan antara Continue Reading