Pareto Chart

- - Control

Pareto Chart adalah salah satu jenis chart yang terdiri dari grafik balok dan juga garis. Penamaannya sendiri diambil dari nama orang yang menemukannya yaitu Vilfredo Pareto. Pada chart ini, value individu direpresentasikan oleh balok dalam urutan yang menurun dan jumlah total kumulatif direpresentasikan oleh garis.

Continue Reading

Pelatihan Six Sigma Green Belt

Pelatihan Six Sigma Green Belt kembali akan diselenggarakan oleh SSCX International pada bulan Oktober 2013. Pendaftaran sudah dapat dilakukan, untuk memastikan Anda mendapatkan biaya terrendah selama masa early bird. Hubungi SSCX di www.sscxinternational.com atau training@sscxinternational.com. Link informasi pelatihan di sini.

Apa itu Green Belt dan Black Belt?  Baca lebih lengkap di sini.

 

Bill Smith the Father of Six Sigma

- - Six Sigma

Bill Smith atau yang dikenal dengan Bapak Six Sigma ini lahir pada tahun 1929 di Brooklyn, New York, Amerika Serikat. Jika Anda mengenal fotografer ternama, Jamie Lynn Smith, ia adalah cucu dari Bill Smith. Beliau merupakan lulusan dari U.S. Naval Academy angkatan 1952 dan kemudian melanjutkan studinya di University of Minnesota School of Management atau yang sekarang lebih dikenal dengan Carlson School of Management. Pada tahun 1987, Bill Smith bergabung dengan perusahaan Motorola setelah 35 tahun berkiprah di dunia engineering dan quality assurance. Peran beliau saat itu cukup penting bagi perusahaan Motorola sendiri yaitu sebagai vice president and senior quality assurance manager untuk Land Mobile Products Sector. Continue Reading

Kenapa Organisasi Membutuhkan Black Belt?

Dunia Persepakbolaaan Indonesia kembali menarik perhatian sebagian masyarakat awam, meskipun tidak memenangkan kejuaraan piala AFF, menurut beberapa pengamat sepakbola apa yang ditampilkan oleh timnas saat ini lebih hidup.

Efektifitas serangan Indonesia atas lawan-lawannya tidak lepas dari peran seorang gelandang serang yang juga seorang kapten Firman Utina. Firman Utina  mampu membagi  serangan timnas dari berbagai sisi secara kreatif dan simultan. Pertanyaannya adalah, apa yang terjadi jika Indonesia tanpa Firman?

Jawabannya mungkin Indonesia masih bisa menang, namun apakah bisa setrengginas saat ini? apakah paduan serangan dan kedisiplinan pertahanan bisa sesolid saat ini? pada Firman jaminan pengatur serangan timnas dibebankan

Tidak berbeda pada tingkat organisasi, keberadaan seorang Black Belt adalah jaminan meningkatnya kinerja perusahaan. Black Belt diperlukan, apabila organisasi menginginkan “kemenangan” yang lebih signifikan, ukuran keberhasilan seorang Black Belt  bisa diukur dengan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk kembali ke titik impas investasi, tingkat penyelesaian proyek, total dan rata-rata nilai finansial menyelesaikan proyek Six Sigma, dan rata-rata waktu penyelesaian proyek. Unsur-unsur inilah yang dipakai untuk mengukur seberapa besar tingkat efektifitas seorang mobilisator dalam program Six Sigma (dalam hal ini Black Belt)

Berikut ini adalah beberapa keuntungan organisasi memiliki seorang Black Belt:

  • Black Belt memiliki kontribusi yang nyata terhadap keuntungan perusahaan. Proyek perbaikan yang dikerjakan seorang Black Belt dapat terhubung langsung dengan strategi  bisnis perusahan.
  • Black Belt memiliki perspektif yang luas. Dia mampu melihat apa yang benar-benar diinginkan oleh pelanggan dan mampu menerjemahkannya dalam critical to Quality. Seorang Black Belt mampu bekerja lintas fungsi dan mendobrak silo-silo perusahaan untuk  menghasilkan kepuasan pelanggan.
  • Selain keahlian teknis dalam menganalisa data dan metodologi six sigma, Black Belt juga mempunyai soft skill dalam memobilisasi atau memotivasi orang-orang yang tepat, pada waktu yang tepat dan cara yang benar.  Dia mampu memobilisasi diri sendiri, anggota tim, dan stakeholder untuk menuju tujuan yang diharapkan bersama.

Kebutuhan seorang Black Belt dalam Organisasi tergantung pada niat organisasi tersebut terhadap program perbaikan yang dimiliki saat ini.  Ibarat sebuah klub yang rela merogoh kantong lebih dalam demi mendapatkan pemain bintang, Black Belt dapat diharapkan menjadi motor penggerak perubahan dalam organisasi. Bedanya Black Belt dan pemain bintang dalam klub sepakbola adalah target! Anda berhak menuntut berapa gol (benefit) yang harus dijaringkan dalam setiap Black Belt “berlaga” mengerjakan proyek perbaikan.

sumber gambar: www.mi-yamaryu.com/

Project Charter

Ketika permasalahan sudah ditemukan untuk diperbaiki, langkah selanjutnya yang harus kita lakukan adalah membuat project charter. Ada berbagai macam isitilah pada project charter diantaranya: team charter, project order, atau project sheet, namun memiliki definisi sebagai berikut:

Lembar perjanjian antara project team dengan shareholder yang menceritakan menceritakan tentang alasan kenapa proyek ini dijalankan, fokus, dan tujuannya. Charter juga menjelaskan tentang sumber daya yang dibutuhkan tim agar project berhasil.

Dari definisi di atas, tujuan utama project charter Continue Reading

Merencanakan Pengumpulan Data

Seperti kita ketahui bersama, Six Sigma dalah metodologi perbaikan yang berbasis pada data. Memahami jenis data akan mempermudah kita untuk menentukan alat statistik apa yang kita pakai untuk mengolahnya. Data terdiri dari dua tipe, yaitu:

  • Continuous –Variabel yang terukur pada suatu produk atau proses, yang dapat dibagi sampai tidak terhingga. Contoh: waktu, ukuran, berat, temperatur, kecepatan.
  • Discrete atau Attribute – Suatu hitungan, bagian, atau persentase dari sebuah karakteristik atau kategori. Data proses jasa seringkali bersifat discrete

Setelah mengetahui tipe data, langkah selanjutnya adalah bagaimana kita mengumpulkan data tersebut. Ada pertimbangan praktis yang mempengaruhi keputusan untuk mengumpulkan data pengukuran. Seringkali tidak memungkinkan kita mengambil seluruh populasi untuk menarik suatu kesimpulan yang kita inginkan , faktor yang umum biasanya adalah biaya. Lebih baik kita mengambil beberapa sampel dari populasi tapi kita meyakini bahwa sampel tersebut bisa memprediksi secara keseluruhan. Pertimbangan lainnya adalah adanya kondisi khusus, contohnya tes destruktif, tidak mungkin kita merusak semua produk yang kita hasilkan hanya untuk mengetahui seberapa kuat produk kita.

Jadi, bagaimana cara kita menyusun rencana pengumpulan data dan menghitung besaran sampling yang sesuai? Berikut adalah langkah-langkahnya:

  1. Stratifikasi data. Mengkategorikan data berdasarkan karakteristik (faktor) yang sama. Tujuannya adalah dengan cara apa anda akan melihat data dan dengan stratifikasi anda memunculkan pola-pola kecurigaan untuk investigasi awal. Jika faktor stratifikasi tidak dibuat “di awal”, maka anda kemungkinan  harus mengulangi proses lagi nantinya. Di sisi lain, mencari terlalu banyak faktor juga akan membuat data lebih sulit untuk dikumpulkan dan biaya lebih besar
  2. Mengembangkan Definisi Operasional. Definisi Operasional adalah penjelasan yang lengkap dan tepat yang menceritakan tentang makna atau arti dari karakter yang akan kita ukur, termasuk bagaimana kita mengukurnya
  3. Identifikasi sumber data. Pertimbangkan apakah kita akan menggunakan data yang sudah ada atau mencari data baru. Pertimbangkan masalah validitas data, harga, waktu, dan trade-offnya.
  4. Mengumpulkan data. Check sheet adalah salah satu  tool statistik yang sederhana namun sangat powerful untuk mengumpulkan data.
  5. Tentukan pengambil data. Orang yang mengambil data harus memahami proses, mengerti definisi operasional, mengerti bagaimana data ditabulasi, dan yang terpenting adalah tidak bias
  6. Menentukan ukuran Sampel. Metode sampling apa yang sesuai random atau sistematik?  Tentukan juga tipe samplingnya apakah populasi atau proses? Memahami tipe data di awal, akan membantu kita menentukan berapa banyak jumlah sampling yang dibutuhkan. Karena data diskrit dan continuous sangatlah berbeda perhitungan samplenya.

Berbicara dengan data akan mempermudah kita meyakinkan manajemen dan para stakeholder, dan yang terutama adalah seberapa valid data yang kita pakai itu. Ingat Gagal merencanakan, berarti anda merencanakan kegagalan itu sendiri.

sumber gambar: http://contactsimply.com/

Metodologi Six Sigma : ANALYZE

Setelah kita mengumpulkan data, memvisualkan, mendapatkan baseline dan sigma level di fase Measure, langkah selanjutnya adalah fase Analyze. Tujuan di fase analyze ini kita akan menetapkan akar masalah (x’s) yang memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Y.

Berikut adalah langkah-langkah utama dari fase Analyze:

•  Identifikasi x (akar masalah) – langkah ini untuk mencari kemungkinkan penyebab masalah (x) yang memiliki pengaruh pada y. Pada langkah ini brainstorming adalah alat yang paling efektif, untuk mempermudah proses brainstorming, tool yang dipakai adalah: Fishbone, 5 Why, dan NGT
•   Prioritas X – langkah ini untuk mempersempit cakupan x yang akan dianalisa oleh tim. X yang akan diprioritaskan adalah yang memiliki pengaruh signifikan pada y.Tool yang dipakai untuk memprioritaskan X adalah Prioritization Matrix
•   Validasi X – Dalam memvalidasi X terdapat dua cara/ pintu, yang pertama adalah pintu proses, yang kedua adalah pintu data. Berikut penjelasannya:

Majalah Shift #01

Anda kini dapat membaca majalah Shift, majalah yang membahas operational excellence, lean, six sigma, tpm, cost reduction.
Dengan bahasan-bahasan yang menarik, majalah ini sangat cocok untuk Anda yang menggeluti bidang continuous improvement.
Tertarik untuk berlangganan? Khusus untuk perusahaan, Anda dapat mendapatkannya secara gratis untuk edisi di 2011, cukup dengan mengisi form ini: http://bit.ly/sendme1
Saran dan komentar sangat ditunggu.