Taguchi Methods

Taguchi Methods adalah sebuah metode statistik yang dikembangkan oleh Genichi Taguchi untuk meningkatkan kualitas dari hasil produksi manufaktur, engineering, biotechnology, marketing, dan edvertising.

Filosofi

  • Kualitas harus didesain di dalam produk, bukan diperiksa di dalam produk
  • Kualitas terbaik dapat dicapai dengan meminimalisir penyimpangan dari target. Produk tersebut harus didesain agar tahan terhadap faktor lingkungan yang tidak dapat dikendalikan
  • Cost dari suatu kualitas harus diukur sebagai fungsi penyimpangan dari standard dan kerugian harus diukur dari keseluruhan sistem

Taguchi Methods melibatkan reduksi variasi dari proses melalui desain robust dari eksperimen. Continue Reading

SIPOC Analysis

- - Six Sigma

SIPOC (Supplier – Inputs – Process – Outputs – Customer) analysis adalah salah satu tools yang digunakan dalam penerapan Six Sigma. Tools ini akan memberikan gambaran yang jelas mengenai pengaruh dari proses terhadap pelayanan konsumen. Hasil akhir dari SIPOC analysis ini adalah sebuah “template” untuk menentukan proses sebelum Anda memulai untuk memetakan, mengukur, dan meningkatkan proses tersebut.

Ketika Anda mulai merencanakan untuk memulai suatu manajemen proses maupun aktifitas improvement, sangat penting untuk mengerti tentang proses itu sendiri secara keseluruhan. SIPOC akan membantu para pemilik maupun pelaku proses untuk menetapkan boundaries atau batasan dari apa yang akan mereka kerjakan. Continue Reading

Apa itu Lean Six Sigma?

- - Lean Six Sigma

Merunut bagaimana Lean dan Six Sigma adalah perpaduan yang sempurna bagi para aktivis perbaikan bisa dilihat pada bagan di bawah ini:

Bila dilihat dari bagan di atas, Lean Six Sigma bukanlah suatu yang baru ada, namun lean six sigma adalah cara baru dalam melakukan pekerjaan. Lean Six Sigma adalah penyempurnaan dari metode-metode perbaikan yang dulu lahir.

Sebelum membahas tentang integrasinya, ada baiknya kita ketahui perbedaan di antara keduanya dari sisi fokus, sasaran, fokus, dan metodenya. Continue Reading

Six Sigma Metodologi: MEASURE

- - Measure, Six Sigma

Setelah kita berhasil menentukan permasalahan yang akan kita selesaikan, langkah selanjutnya adalah MEASURE. Tujuan dari fase ini adalah menetapkan baseline dari proyek secara akurat sehingga kita dapat membandingkannya terhadap hasil perbaikan dari proyek ini nantinya.

Aktivitas utama dalam fase ini

Memetakan Proses –setelah kita mengidentifikasi batasan ruang lingkup proyek dalam SIPOC, langkah selanjutnya adalah memetakan proses secara lebih detail lagi. Langkah ini penting dilakukan untuk menentukan constraint, value, non-value-add, dan area fokus untuk perbaikan. Dari sini kita bisa mengidentifikasi quick wins dengan mengeliminasi waste yang ditemukan dalam proses. Tool yang biasa dipakai untuk memetakan proses ini adalah Value stream mapping

Menentukan ukuran – ukuran untuk y dan x – mengidentifikasi ukuran yang perlu dikumpulkan di output yang diharapkan, proses inti yang membuat output, serta input daripada Continue Reading

Statistik dan Six Sigma

- - Measure, Six Sigma

Statistik dan Six Sigma

Statistik dan Six Sigma. Pada tahun 1925, Whalter Shewhart yang dikenal sebagai bapak pengendalian kualitas pernah mengatakan bahwa:

“Kontribusi statistik tidak dilihat dari seberapa banyak karyawan anda yang ahli statistik, namun seberapa sukses anda menanamkan pola pikir statistik pada teknisi, produksi, dan enjiner yang membentuk proses anda di masa depan”.

Apa yang dikatakan Shewhart tujuh puluh enam tahun yang lalu itu terasa masih sangat relevan dengan kondisi saat ini. Seriring semakin meningkatnya keinginan pelanggan akan kualitas yang unggul ditambah lagi banyaknya pilihan, produsen  berlomba-lomba meningkatkan kinerjanya untuk dapat memenangkan kompetisi dengan cara meningkatkan kualitas dan produktivitas.

Dalam beberapa dekade belakangan ini beberapa metodologi peningkatan kinerja dipakai para produsen untuk dapat terus efektif dan efisien dalam prosesnya. Six Sigma adalah salah satunya metodologi yang terbukti membantu para produsen untuk dapat mencapai tujuannya itu.

Six Sigma berakar dari pendekatan yang mendorong perbaikan proses melalui pengukuran statistik dan analisa data. Six Sigma bertujuan untuk menghasilkan tidak lebih dari 3,4 cacat per 1 juta kesempatan dalam proses produksi.

Pendekatan Six Sigma adalah proyek – dengan kata lain, ketika peluang perbaikan berhasil diidentifikasi, maka dibentuklah suatu tim dengan sumber daya dan rencana kerja untuk mengeksekusinya. Eksekusi proyek Six Sigma mengikuti pola yang sangat ketat (atau dalam project management disebut sebagai milestone) yaitu: Define, Measure, Analyze, Improve, Control. Pada setiap fase dalam roadmap DMAIC inilah seperangkat alat khusus digunakan, dan sebagian besar alat-alat ini berkaitan dengan prinsip dan aplikasi statistik.

Menurut  Deming  statistik adalah mempelajari dan memahami variasi dalam proses dan populasi, menyimpulkan interaksi yang  terjadi antar variabel, memahami definisi operasional untuk dapat mengkomunikasikan data secara efektif, dan akhirnya, mengambil tindakan untuk mengurangi variasi dalam proses atau populasi tersebut. Singkatnya, statistik adalah alat yang dipakai untuk mengubah data menjadi informasi, dari informasi kita mendapat pengetahuan, dan dari pengetahuan kita dapat menentukan tindakan yang akan kita lakukan.

Tujuan kita mempelajari statistik bukanlah menjadikan diri kita seorang ahli statistik tetapi kita mempunyai pengetahuan yang cukup sehingga kita mampu menggunakan metode statistik mana yang sesuai dalam setiap fase DMAIC. Sehingga tidak akan lagi idiom “Ketika alat yang kita punya adalah martir, maka semua masalah terlihat sebagai paku” berlaku pada kita. Itulah statistik dalam six sigma.

Majalah Shift Online

- - News, Six Sigma

Untuk melengkapi praktisi Operational Excellence dan Continuous Improvement dengan updates dan wawasan terkini untuk topik yang merupakan PASSION dari kita semua yakni OpEx, CI, Lean, Six Sigma, Customer Satisfaction, Cost Reduction, kini telah tersedia majalah online Shift.

Majalah online ini dikembangkan bersama dengan majalah konvensional Shift. Silakan kunjungi www.shiftindonesia.com

Kenapa Organisasi Membutuhkan Black Belt?

- - Belt, Six Sigma

Dunia Persepakbolaaan Indonesia kembali menarik perhatian sebagian masyarakat awam, meskipun tidak memenangkan kejuaraan piala AFF, menurut beberapa pengamat sepakbola apa yang ditampilkan oleh timnas saat ini lebih hidup.

Efektifitas serangan Indonesia atas lawan-lawannya tidak lepas dari peran seorang gelandang serang yang juga seorang kapten Firman Utina. Firman Utina  mampu membagi  serangan timnas dari berbagai sisi secara kreatif dan simultan. Pertanyaannya adalah, apa yang terjadi jika Indonesia tanpa Firman?

Jawabannya mungkin Indonesia masih bisa menang, namun apakah bisa setrengginas saat ini? apakah paduan serangan dan kedisiplinan pertahanan bisa sesolid saat ini? pada Firman jaminan pengatur serangan timnas dibebankan

Tidak berbeda pada tingkat organisasi, keberadaan seorang Black Belt adalah jaminan meningkatnya kinerja perusahaan. Black Belt diperlukan, apabila organisasi menginginkan “kemenangan” yang lebih signifikan, ukuran keberhasilan seorang Black Belt  bisa diukur dengan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk kembali ke titik impas investasi, tingkat penyelesaian proyek, total dan rata-rata nilai finansial menyelesaikan proyek Six Sigma, dan rata-rata waktu penyelesaian proyek. Unsur-unsur inilah yang dipakai untuk mengukur seberapa besar tingkat efektifitas seorang mobilisator dalam program Six Sigma (dalam hal ini Black Belt)

Berikut ini adalah beberapa keuntungan organisasi memiliki seorang Black Belt:

  • Black Belt memiliki kontribusi yang nyata terhadap keuntungan perusahaan. Proyek perbaikan yang dikerjakan seorang Black Belt dapat terhubung langsung dengan strategi  bisnis perusahan.
  • Black Belt memiliki perspektif yang luas. Dia mampu melihat apa yang benar-benar diinginkan oleh pelanggan dan mampu menerjemahkannya dalam critical to Quality. Seorang Black Belt mampu bekerja lintas fungsi dan mendobrak silo-silo perusahaan untuk  menghasilkan kepuasan pelanggan.
  • Selain keahlian teknis dalam menganalisa data dan metodologi six sigma, Black Belt juga mempunyai soft skill dalam memobilisasi atau memotivasi orang-orang yang tepat, pada waktu yang tepat dan cara yang benar.  Dia mampu memobilisasi diri sendiri, anggota tim, dan stakeholder untuk menuju tujuan yang diharapkan bersama.

Kebutuhan seorang Black Belt dalam Organisasi tergantung pada niat organisasi tersebut terhadap program perbaikan yang dimiliki saat ini.  Ibarat sebuah klub yang rela merogoh kantong lebih dalam demi mendapatkan pemain bintang, Black Belt dapat diharapkan menjadi motor penggerak perubahan dalam organisasi. Bedanya Black Belt dan pemain bintang dalam klub sepakbola adalah target! Anda berhak menuntut berapa gol (benefit) yang harus dijaringkan dalam setiap Black Belt “berlaga” mengerjakan proyek perbaikan.

sumber gambar: www.mi-yamaryu.com/

Metodologi Six Sigma: CONTROL

- - Control

Hal yang terpenting dalam melakukan Six Sigma terletak pada fase ini, CONTROL. Mempertahankan kemenangan memang lebih susah ketika kita mendapatkannya. Tujuan dari fase ini adalah memastikan implementasi menyeluruh dapat berjalan baik, sustainable (berke-sinambungan). Fase Control ini juga menjadi akhir dari keterlibatan aktif Tim dalam proyek.

Apa saja langkah-langkah utama dalam fase ini? Berikut penjelasannya:

  • Memastikan sustainability dari perbaikan – untuk bisa membuat proses perbaikan proses berjalan sesuai dengan yang diharapkan dalam jangka panjang, maka penting bagi kita untuk membuat sistem yang bisa meminimasi terjadinya kesalahan, atau dengan menciptakan mistake-proofing agar permasalahan yang sama tidak muncul.
  • Mengukur dan mengkomunikasikan hasil – setelah implementasi berjalan baik, hasil perbaikan terus diukur dan dipantau. Untuk lebih memudahkan proses pemantauan perlu kita buat sebuah dashboard monitoring hasil perbaikan yang berfungsi sebagai alat komunikasi tim kepada Steering Committee maupun kepada anggota organisasi lain terhadap profil dari output utama dari proyek perbaikan yang sudah selesai dijalankan
  • SOP dan Control Plan – Membahas bagaimana cara menyusun Process Control Plan (reaction plan), menciptakan alat mistake proofing, hingga menyusun SOP untuk sustainability dari perbaikan yang telah dilakukan
  • Serah Terima kepada Process Owner (pemilik proses) – langkah ini termasuk mengkomunikasikan SOP dan Control Plan.
  • Control Gate Review Pertemuan dengan Project Sponsor, Business Leadership, dan pihak terkait lainnya untuk memastikan alignment dari fokus proyek dan ekspektasi manajemen dan penyampaian progres akhir dan serah terima proyek

Sedangkan hal-hal yang perlu diselesaikan ketika masuk dalam fase ini adalah Continue Reading