Peran Champion dalam Six Sigma

Berdasarkan sebuah survey tentang penyebab kegagalan segala aktivitas perbaikan dalam suatu organisasi yang tertinggi adalah lemahnya komitmen dari para pemimpin bisnis alias champion. Komitmen hanya sekedar lip service atau hanya bersifat sementara kemudian lenyap ketika organisasi kehilangan fokus dalam menghadapi tantangan yang lainnya. Tidak ada champion dalam upaya perubahan.

Hal yang sama bisa terjadi pada inisiatif six sigma yang organisasi anda lakukan, bisa jadi bila tidak dikelola dengan tepat maka sukses yang diharapkan tidak pernah tercapai atau bahkan inisiatif ini seperti orang hidup segan, mati tak mau.

Untuk tidak mengalami nasib seperti itu, dua pertanyaan yang harus dijawab adalah:

  1. Bagaimana inisiatif Six Sigma ini diluncurkan dengan sukses dan mencapai momentum tertinggi bagi organisasi?
  2. Apa yang harus dilakukan agar inisiatif ini lestari dan sukses dalam jangka panjang?

Setiap organisasi perlu mempersiapkan Champion untuk menjawab dua pertanyaan di atas. Seorang champion bertanggung jawab untuk Continue Reading

Kaizen dalam Six Sigma

Dalam artikel sebelumnya kita membahas tentang bagaimana meningkatkan efisiensi secara cepat dengan Kaizen Blitz. Sekarang,  kita akan membahas Kaizen lebih dalam.

Dalam berbagai forum, banyak diskusi hangat tentang lebih baik mana Kaizen dengan Six Sigma?  Menurut kami, pertanyaan tersebut sama dengan ketika anda bertanya lebih bagus mana martil sama obeng? Ngga’ nyambung, karena mereka berbeda kegunaanya.

Jika anda menginginkan buah Apel. Manakah yang anda ambil terlebih dahulu? Jika anda menjawab yang di pucuk pohon kami tidak menyalahkan namun pertanyaannya adalah kenapa anda susah-susah untuk mendapatkan buah yang ada di pucuk, padahal dengan usaha yang lebih sedikit, anda bisa mendapatkan apel yang ada di bawah. Logikanya adalah, habiskan dulu yang ada di bawah, kemudian baru naik ke atas.

Begitu juga ketika organisasi anda ingin meningkatkan kinerja, berdasarkan prinsip ekonomi bagaimana dengan usaha yang sedikit kita mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya.

Menurut Masaaki Imai, esensi dari Kaizen adalah Continue Reading

Statistik dan Six Sigma

Statistik dan Six Sigma

Statistik dan Six Sigma. Pada tahun 1925, Whalter Shewhart yang dikenal sebagai bapak pengendalian kualitas pernah mengatakan bahwa:

“Kontribusi statistik tidak dilihat dari seberapa banyak karyawan anda yang ahli statistik, namun seberapa sukses anda menanamkan pola pikir statistik pada teknisi, produksi, dan enjiner yang membentuk proses anda di masa depan”.

Apa yang dikatakan Shewhart tujuh puluh enam tahun yang lalu itu terasa masih sangat relevan dengan kondisi saat ini. Seriring semakin meningkatnya keinginan pelanggan akan kualitas yang unggul ditambah lagi banyaknya pilihan, produsen  berlomba-lomba meningkatkan kinerjanya untuk dapat memenangkan kompetisi dengan cara meningkatkan kualitas dan produktivitas.

Dalam beberapa dekade belakangan ini beberapa metodologi peningkatan kinerja dipakai para produsen untuk dapat terus efektif dan efisien dalam prosesnya. Six Sigma adalah salah satunya metodologi yang terbukti membantu para produsen untuk dapat mencapai tujuannya itu.

Six Sigma berakar dari pendekatan yang mendorong perbaikan proses melalui pengukuran statistik dan analisa data. Six Sigma bertujuan untuk menghasilkan tidak lebih dari 3,4 cacat per 1 juta kesempatan dalam proses produksi.

Pendekatan Six Sigma adalah proyek – dengan kata lain, ketika peluang perbaikan berhasil diidentifikasi, maka dibentuklah suatu tim dengan sumber daya dan rencana kerja untuk mengeksekusinya. Eksekusi proyek Six Sigma mengikuti pola yang sangat ketat (atau dalam project management disebut sebagai milestone) yaitu: Define, Measure, Analyze, Improve, Control. Pada setiap fase dalam roadmap DMAIC inilah seperangkat alat khusus digunakan, dan sebagian besar alat-alat ini berkaitan dengan prinsip dan aplikasi statistik.

Menurut  Deming  statistik adalah mempelajari dan memahami variasi dalam proses dan populasi, menyimpulkan interaksi yang  terjadi antar variabel, memahami definisi operasional untuk dapat mengkomunikasikan data secara efektif, dan akhirnya, mengambil tindakan untuk mengurangi variasi dalam proses atau populasi tersebut. Singkatnya, statistik adalah alat yang dipakai untuk mengubah data menjadi informasi, dari informasi kita mendapat pengetahuan, dan dari pengetahuan kita dapat menentukan tindakan yang akan kita lakukan.

Tujuan kita mempelajari statistik bukanlah menjadikan diri kita seorang ahli statistik tetapi kita mempunyai pengetahuan yang cukup sehingga kita mampu menggunakan metode statistik mana yang sesuai dalam setiap fase DMAIC. Sehingga tidak akan lagi idiom “Ketika alat yang kita punya adalah martir, maka semua masalah terlihat sebagai paku” berlaku pada kita. Itulah statistik dalam six sigma.

Keuntungan Menggunakan Six Sigma pada Industri Healthcare

- - Six Sigma

Pada artikel sebelumnya kita telah membahas sekilas mengenai penerapan metodologi Six Sigma di industri healthcare. Kali ini kita akan membahas lebih dalam mengenai manfaat ataupun keuntungan yang bisa didapat dengan menerapkan Six Sigma pada industri healthcare Anda. Secara umum terdapat lima keuntungan utama yang bisa Anda dapatkan sebagai berikut:

Continue Reading

Bill Smith the Father of Six Sigma

- - Six Sigma

Bill Smith atau yang dikenal dengan Bapak Six Sigma ini lahir pada tahun 1929 di Brooklyn, New York, Amerika Serikat. Jika Anda mengenal fotografer ternama, Jamie Lynn Smith, ia adalah cucu dari Bill Smith. Beliau merupakan lulusan dari U.S. Naval Academy angkatan 1952 dan kemudian melanjutkan studinya di University of Minnesota School of Management atau yang sekarang lebih dikenal dengan Carlson School of Management. Pada tahun 1987, Bill Smith bergabung dengan perusahaan Motorola setelah 35 tahun berkiprah di dunia engineering dan quality assurance. Peran beliau saat itu cukup penting bagi perusahaan Motorola sendiri yaitu sebagai vice president and senior quality assurance manager untuk Land Mobile Products Sector. Continue Reading