Kaizen dalam Six Sigma

Dalam artikel sebelumnya kita membahas tentang bagaimana meningkatkan efisiensi secara cepat dengan Kaizen Blitz. Sekarang,  kita akan membahas Kaizen lebih dalam.

Dalam berbagai forum, banyak diskusi hangat tentang lebih baik mana Kaizen dengan Six Sigma?  Menurut kami, pertanyaan tersebut sama dengan ketika anda bertanya lebih bagus mana martil sama obeng? Ngga’ nyambung, karena mereka berbeda kegunaanya.

Jika anda menginginkan buah Apel. Manakah yang anda ambil terlebih dahulu? Jika anda menjawab yang di pucuk pohon kami tidak menyalahkan namun pertanyaannya adalah kenapa anda susah-susah untuk mendapatkan buah yang ada di pucuk, padahal dengan usaha yang lebih sedikit, anda bisa mendapatkan apel yang ada di bawah. Logikanya adalah, habiskan dulu yang ada di bawah, kemudian baru naik ke atas.

Begitu juga ketika organisasi anda ingin meningkatkan kinerja, berdasarkan prinsip ekonomi bagaimana dengan usaha yang sedikit kita mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya.

Menurut Masaaki Imai, esensi dari Kaizen adalah Continue Reading

Lean Six Sigma di Industri Tambang (Lean Six Sigma Mining)

- - News, Six Sigma

Banyak yang meragukan Lean Six Sigma dapat diaplikasikan di pertambangan, karena hal-hal berikut:

  • Industri tambang adalah push system, produksinya continuous dan 24 jam sehari. Jadi sistem tarik sebagaimana prinsip Lean tidak akan bisa diaplikasikan di sini.
  • Debu adalah by-product, akan mahal sekali biaya yang dikeluarkan jika harus mengaplikasikan work area management (5S)
  • Kondisi Geografis yang ekstrim: lokasi terpencil, dan pengaruh cuaca serta material yang terpencar di berbagai arah.
  • Membutuhkan skala besar logistik dan supply chain

Memang benar bahwa di dunia pertambangan memiliki beberapa tantangan yang tidak ada dunia manufaktur – tempat dimana Lean Six Sigma dilahirkan – seperti yang dijelaskan di atas. Akan tetapi prinsip-prinsip dalam Lean Six Sigma seperti proses yang efektif dan efisien, memaksimalkan utilisasi operasi, dan fokus pada kebutuhan pelanggan dapat diaplikasikan dalam industri ini. Untuk itu perlu dilakukan modifikasi alat analisa, teknik, dan terminologi. Mari kita lihat dua contoh perusahaan tambang di bawah ini. Continue Reading

Kenapa Organisasi Membutuhkan Black Belt?

- - Belt, Six Sigma

Dunia Persepakbolaaan Indonesia kembali menarik perhatian sebagian masyarakat awam, meskipun tidak memenangkan kejuaraan piala AFF, menurut beberapa pengamat sepakbola apa yang ditampilkan oleh timnas saat ini lebih hidup.

Efektifitas serangan Indonesia atas lawan-lawannya tidak lepas dari peran seorang gelandang serang yang juga seorang kapten Firman Utina. Firman Utina  mampu membagi  serangan timnas dari berbagai sisi secara kreatif dan simultan. Pertanyaannya adalah, apa yang terjadi jika Indonesia tanpa Firman?

Jawabannya mungkin Indonesia masih bisa menang, namun apakah bisa setrengginas saat ini? apakah paduan serangan dan kedisiplinan pertahanan bisa sesolid saat ini? pada Firman jaminan pengatur serangan timnas dibebankan

Tidak berbeda pada tingkat organisasi, keberadaan seorang Black Belt adalah jaminan meningkatnya kinerja perusahaan. Black Belt diperlukan, apabila organisasi menginginkan “kemenangan” yang lebih signifikan, ukuran keberhasilan seorang Black Belt  bisa diukur dengan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk kembali ke titik impas investasi, tingkat penyelesaian proyek, total dan rata-rata nilai finansial menyelesaikan proyek Six Sigma, dan rata-rata waktu penyelesaian proyek. Unsur-unsur inilah yang dipakai untuk mengukur seberapa besar tingkat efektifitas seorang mobilisator dalam program Six Sigma (dalam hal ini Black Belt)

Berikut ini adalah beberapa keuntungan organisasi memiliki seorang Black Belt:

  • Black Belt memiliki kontribusi yang nyata terhadap keuntungan perusahaan. Proyek perbaikan yang dikerjakan seorang Black Belt dapat terhubung langsung dengan strategi  bisnis perusahan.
  • Black Belt memiliki perspektif yang luas. Dia mampu melihat apa yang benar-benar diinginkan oleh pelanggan dan mampu menerjemahkannya dalam critical to Quality. Seorang Black Belt mampu bekerja lintas fungsi dan mendobrak silo-silo perusahaan untuk  menghasilkan kepuasan pelanggan.
  • Selain keahlian teknis dalam menganalisa data dan metodologi six sigma, Black Belt juga mempunyai soft skill dalam memobilisasi atau memotivasi orang-orang yang tepat, pada waktu yang tepat dan cara yang benar.  Dia mampu memobilisasi diri sendiri, anggota tim, dan stakeholder untuk menuju tujuan yang diharapkan bersama.

Kebutuhan seorang Black Belt dalam Organisasi tergantung pada niat organisasi tersebut terhadap program perbaikan yang dimiliki saat ini.  Ibarat sebuah klub yang rela merogoh kantong lebih dalam demi mendapatkan pemain bintang, Black Belt dapat diharapkan menjadi motor penggerak perubahan dalam organisasi. Bedanya Black Belt dan pemain bintang dalam klub sepakbola adalah target! Anda berhak menuntut berapa gol (benefit) yang harus dijaringkan dalam setiap Black Belt “berlaga” mengerjakan proyek perbaikan.

sumber gambar: www.mi-yamaryu.com/

Metodologi Six Sigma: CONTROL

- - Control

Hal yang terpenting dalam melakukan Six Sigma terletak pada fase ini, CONTROL. Mempertahankan kemenangan memang lebih susah ketika kita mendapatkannya. Tujuan dari fase ini adalah memastikan implementasi menyeluruh dapat berjalan baik, sustainable (berke-sinambungan). Fase Control ini juga menjadi akhir dari keterlibatan aktif Tim dalam proyek.

Apa saja langkah-langkah utama dalam fase ini? Berikut penjelasannya:

  • Memastikan sustainability dari perbaikan – untuk bisa membuat proses perbaikan proses berjalan sesuai dengan yang diharapkan dalam jangka panjang, maka penting bagi kita untuk membuat sistem yang bisa meminimasi terjadinya kesalahan, atau dengan menciptakan mistake-proofing agar permasalahan yang sama tidak muncul.
  • Mengukur dan mengkomunikasikan hasil – setelah implementasi berjalan baik, hasil perbaikan terus diukur dan dipantau. Untuk lebih memudahkan proses pemantauan perlu kita buat sebuah dashboard monitoring hasil perbaikan yang berfungsi sebagai alat komunikasi tim kepada Steering Committee maupun kepada anggota organisasi lain terhadap profil dari output utama dari proyek perbaikan yang sudah selesai dijalankan
  • SOP dan Control Plan – Membahas bagaimana cara menyusun Process Control Plan (reaction plan), menciptakan alat mistake proofing, hingga menyusun SOP untuk sustainability dari perbaikan yang telah dilakukan
  • Serah Terima kepada Process Owner (pemilik proses) – langkah ini termasuk mengkomunikasikan SOP dan Control Plan.
  • Control Gate Review Pertemuan dengan Project Sponsor, Business Leadership, dan pihak terkait lainnya untuk memastikan alignment dari fokus proyek dan ekspektasi manajemen dan penyampaian progres akhir dan serah terima proyek

Sedangkan hal-hal yang perlu diselesaikan ketika masuk dalam fase ini adalah Continue Reading

Good or Good Project?

There are many difference between organizations successfully implement Lean Six Sigma and those who fail. One of the major difference in Project Selection. Yes, you may say top management commitment, organization’s buy in, culture, deployment experts, but still we believe the methodology to select and prioritize a project is key success-factor.

Imagine you’re doing a very simple project, let’s say improving an insignificant process to an insigficant improvement level (increase sigma level from 2.0 to 2.1). And this company runs 20 projects like this!

After several months, they will review the result, and learn “yes, we have finished the projects, but how come there’s no difference in our business process? How come our project’s return on investment is so low?”. Most likely it will reduce their buy in and seriousness in the next coming projects.

Another scenario for you to review. You’re now doing a complex difficult project. Let’s say improving a core process with a very complex case to a very significant improvement target. And this company runs 10 projects like this!

After one year, they will review the result, and learn “gosh! how come there’s no completed project? Where is the big return we’ve been looking for?”

See? Failure in selecting a “good” project will result in failure of implementing Lean Six Sigma. So, how good is a good project?

    Several tips to define a good project:

1. align with corporate strategy or departmental KPIs
2. correct SCOPING (not too wide, not too narrow)
3. bottom-line value creation focus
4. balance between resources/effort (competency, investment, time) with result and complexity

To sum up, choose a good project is a manageable and meaningful project.

Project Chartering

One of the early step in running a Six Sigma project is Project Chartering. Project Charter itself is a document explaining a purpose or objective and background of a project. Also included in the Charter are improvement team involved in the project and project plan (scheduling).

Part of this Project Charter is completed by a “top-level” team who assign the project to a specific improvement team (usually led by a Green Belt or Black Belt). After the assignment, the improvement team will fully complete the charter and propose to the top-level team for approval. A Project Charter is a living-document, it can change during DMAIC improvement phases.

Measurement System Analysis

Measurement systems are like eyeglasses, when the lenses are incorrect, the vision is blurred. A measurement system allows us to “see” the process. When a measurement system is poor, we lose the ability to make good decisions about how to improve the process.

The IMPORTANCE of Measurement System Analysis?
– Many resources can be wasted trying to improve a process when a major source of variability is the measurement system.
– The measurement system MUST be qualified before beginning process improvement work.
– The measurement system is only one source of variability when measuring a product or process.
– The purpose of a measurement system is to better understand the sources of variation that can influence the results produced by the process under investigation.
– In the Measure Phase, the team must be able to demonstrate that the data is accurate and reliable.

One good tool to analyze the capability of our measurement system is Measurement System Analysis (MSA) also known as Gage R and R. R and R stands for Reproducibility and Repeatability.

Six Sigma di Perbankan (Six Sigma in Banking/Transactional)

- - News, Six Sigma

Carol adalah wanita sibuk, waktu sangat berharga baginya. Sial bagi Carol ATMnya tertelan, jadi mau tidak mau dia harus mengurusnya di kantor cabang pembantu bank tersebut. Sampai di bank, Carol tidak menduga bahwa antriannya begitu panjang, dia juga melihat bahwa pihak bank sudah membuka semua counter pelayanannya, para frontliner juga “sepertinya” sibuk melayani pelanggan. Namun kenapa dia merasa bahwa proses pelayanan masing-masing nasabah lama?

 

 

 

Apa yang dialami Carol adalah satu dari sekian banyak masalah yang umum terjadi di Bank, dan biasanya pihak bank melakukan pendekatan “firefighting” seperti menambah jumlah frontliner, atau bahkan memberikan kursi tambahan.

Solusi-solusi di atas tidak akan menyelesaikan masalah sampai ke akarnya, seperti fenomena gunung es – puncak es yang terlihat hanya sebagian kecil dari seluruh ketidak beresan sistem.  Jadi, untuk bisa menyelesaikan masalah ini harus dilihat secara menyeluruh.

Six Sigma diadopsi oleh banyak organisasi termasuk institusi keuangan. Sebut saja Bank of America, ABN AMRO, Citibank, JP Morgan dan masih banyak lagi. Meskipun akar dari six sigma Continue Reading