Mitos – Mitos dalam Six Sigma

Mitos atau mite (myth) adalah cerita yang dipercaya atau dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita atau penganutnya. Seperti layaknya mitos, orang lebih senang mendiskusikan dan memperdebatkannya daripada  mencari kebenarannya. Apa saja mitos yang melingkupi Six Sigma? mari kita ulas kebenarannya.

Mitos 1 : Six Sigma adalah Kerupuk yang sama dalam Toples yang berbeda

Kegiatan manusia untuk menemukan sistem yang lebih baik sudah ada sejak jaman dulu  ketika  Sloan mengembangkan sistem mass production di tahun 1850. Sekilas inisiatif Six Sigma tidak beda dengan inisiatif perbaikan lainnya, namun sebenarnya ada perbedaan mendasar. Six Sigma adalah penyempurnaan, cara baru dalam kita meningkatkan kinerja organisasi.

Penekanan utama Six Sigma terdapat pada ukuran keberhasilan proyek. Proyek Six Sigma dapat dikorelasikan secara langsung pada bottom-line,  sehingga ketika dipresentasikan ke Top- Management, tidak ada alasan untuk menolak dan mendukung inisiatif ini. Pemimpin dan tim dari proyek juga diberikan pelatihan yang komprehensif sehingga mampu menjalankan metodologi DMAIC secara terstruktur dan sistematis yang meningkatkan probabilitas keberhasilan proyek.

Mitos 2 : Six Sigma hanya Bisa dijalankan oleh Perusahaan Besar Saja

Sebagian besar dari perusahaan yang tercatat sebagai Fortune 1000 mengimplementasikan six sigma sebagai inisiatif untuk meningkatkan competitive advantage-nya.

Namun bukan berarti perusahaan kecil dan menengah tidak bisa menjalankannya. Selama organisasi anda mempunyai proses yang melibatkan manusia, pelanggan yang tingkat kepuasannya relatif, dan yang terpenting memiliki proses yang terukur. Segala sesuatu yang terukur pasti bisa ditingkatkan.

Mitos 3: Hanya berlaku untuk industri manufaktur saja

Meskipun Six Sigma dikembangkan pertama kali oleh perusahaan manufaktur :Motorola dan GE. Namun saat ini banyak perusahaan baik jasa, pertambangan, bahkan pemerintahan menerapkan prinsip-prinsip perbaikan Six Sigma, sebut saja Bank Mandiri yang pernah menjadi Best Six Sigma Project Award di Six Sigma Conference di tahun 2009 dan PT. PLN perusahaan distribusi ketenaga listrikan milik pemerintah. Banyak sekali manfaat yang didapat kedua organisasi di atas dalam implementasi Six Sigma

Mitos 4: Diperlukan banyak tenaga ahli Statistik

Pemakaian statistik sebagai pengolahan data dan validasi apa yang diduga sebelumnya. Pada umumnya bersifat praktis dan tidak semua tool statistik yang rumit dipakai untuk perbaikan. Lagipula, di jaman modern ini, software statistik sudah sangat umum dan user friendly

Mitos 5: Harus paham Bahasa Asing (Inggris atau Jepang)

Dalam bidang perbaikan istilah asing dalam bahasa Jepang dan Inggris kerap terdengar aneh di telinga, hal ini membuat karyawan sulit menerima. Shakespeare berkata “apalah  arti sebuah nama”, yang terpenting adalah memaknai esensinya. Anda bisa gunakan istilah yang familiar di budaya organisasi. Ini akan membuat proses komunikasi lebih cepat dan lebih diterima

Opt In Image
FREE E-book!
Cerita Pendek dan Case Problem Solving

Jika Anda bosan dengan penjelasan problem solving yang penuh teori, Anda dapat mencicipi ebook sederhana yang penuh cerita seru. FREE. Buku ini memberikan penjelasan problem solving yang ringan tetapi tepat sasaran. Lengkapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *