Karakter Lean Six Sigma dalam Sistem Operasional Perusahaan

Menurut riset, perusahaan-perusahaan yang menggunakan Lean Six Sigma dalam menerapkan kebiasaan inovasi dan memiliki performa finansial yang superior memiliki set karakteristik yang membedakan mereka dari perusahaan yang masih bersandar kepada pola pikir tradisional dalam pengembangan bisnisnya.

Organisasi inovator yang sukses umumnya memiliki:

  1. Visi mengenai inovasi yang berbasis kepada pengetahuan faktual mengenai pasar dan pelanggan. Perusahaan harus membangun visi yang berbasis kepada pemahaman akan Continue reading “Karakter Lean Six Sigma dalam Sistem Operasional Perusahaan”

Six Sigma Calculator

Kalkulator Six Sigma alias Six Sigma Calculator adalah alat bantu untuk membantu Anda untuk menghitung nilai sigma pada proses Anda. Kalkulator Six Sigma ini bisa menggantikan kerepotan Anda dalam menghitung nilai sigma. Cara hitung nilai sigma dalam kalkulator six sigma ini sama dengan teori dan praktik umum

Nilai defect per million opportunity atau DPMO adalah salah satu ukuran konversi penting dalam kalkulator six sigma (Six Sigma Calculator) ini. Cara hitung nilai sigma di sini juga sudah mempertimbangkan kebutuhan akan data variabel dan atribut, perhitungan standard deviation maupun mean. Ini banyak digunakan dalam fase Measure di dalam siklus DMAIC.

Freeware for Blackberry: http://www.sscxinternational.com/ideas/six-sigma-calculator/

Silakan diinstall di blackberry Anda 🙂 Dan gunakan kalkulator six sigma (Six Sigma Calculator) ini dalam project Anda. Kalkulator six sigma (Six Sigma Calculator) dirilis oleh SSCX International.

UPDATE 2013: LINK INI TIDAK DAPAT LAGI DIGUNAKAN KARENA PERUBAHAN KONTEN PADA WEBSITE SSCX.

Statistik dan Six Sigma

Statistik dan Six Sigma

Statistik dan Six Sigma. Pada tahun 1925, Whalter Shewhart yang dikenal sebagai bapak pengendalian kualitas pernah mengatakan bahwa:

“Kontribusi statistik tidak dilihat dari seberapa banyak karyawan anda yang ahli statistik, namun seberapa sukses anda menanamkan pola pikir statistik pada teknisi, produksi, dan enjiner yang membentuk proses anda di masa depan”.

Apa yang dikatakan Shewhart tujuh puluh enam tahun yang lalu itu terasa masih sangat relevan dengan kondisi saat ini. Seriring semakin meningkatnya keinginan pelanggan akan kualitas yang unggul ditambah lagi banyaknya pilihan, produsen  berlomba-lomba meningkatkan kinerjanya untuk dapat memenangkan kompetisi dengan cara meningkatkan kualitas dan produktivitas.

Dalam beberapa dekade belakangan ini beberapa metodologi peningkatan kinerja dipakai para produsen untuk dapat terus efektif dan efisien dalam prosesnya. Six Sigma adalah salah satunya metodologi yang terbukti membantu para produsen untuk dapat mencapai tujuannya itu.

Six Sigma berakar dari pendekatan yang mendorong perbaikan proses melalui pengukuran statistik dan analisa data. Six Sigma bertujuan untuk menghasilkan tidak lebih dari 3,4 cacat per 1 juta kesempatan dalam proses produksi.

Pendekatan Six Sigma adalah proyek – dengan kata lain, ketika peluang perbaikan berhasil diidentifikasi, maka dibentuklah suatu tim dengan sumber daya dan rencana kerja untuk mengeksekusinya. Eksekusi proyek Six Sigma mengikuti pola yang sangat ketat (atau dalam project management disebut sebagai milestone) yaitu: Define, Measure, Analyze, Improve, Control. Pada setiap fase dalam roadmap DMAIC inilah seperangkat alat khusus digunakan, dan sebagian besar alat-alat ini berkaitan dengan prinsip dan aplikasi statistik.

Menurut  Deming  statistik adalah mempelajari dan memahami variasi dalam proses dan populasi, menyimpulkan interaksi yang  terjadi antar variabel, memahami definisi operasional untuk dapat mengkomunikasikan data secara efektif, dan akhirnya, mengambil tindakan untuk mengurangi variasi dalam proses atau populasi tersebut. Singkatnya, statistik adalah alat yang dipakai untuk mengubah data menjadi informasi, dari informasi kita mendapat pengetahuan, dan dari pengetahuan kita dapat menentukan tindakan yang akan kita lakukan.

Tujuan kita mempelajari statistik bukanlah menjadikan diri kita seorang ahli statistik tetapi kita mempunyai pengetahuan yang cukup sehingga kita mampu menggunakan metode statistik mana yang sesuai dalam setiap fase DMAIC. Sehingga tidak akan lagi idiom “Ketika alat yang kita punya adalah martir, maka semua masalah terlihat sebagai paku” berlaku pada kita. Itulah statistik dalam six sigma.

Black Belt vs Green Belt

Dalam menjadikan six sigma sebagai suatu inisiatif yang membudaya dalam organisasi dibutuhkan infrastruktur yang tepat. Infrastruktur disini mengacu pada pemilihan orang-orang yang duduk dalam organisasi Six Sigma.

Seperti kita ketahui ada beberapa peran penting yang harus dimiliki ketika kita menginisiasi program Six Sigma, yaitu: Champion, Sponsor, Black belt, Green Belt dan anggota tim. Pembahasan kita kali ini akan lebih detail pada Black Belt dan Green belt.

Istilah Black Belt pertama kali diperkenalkan oleh Motorola, didasarkan pada keahlian seseorang karateka yang memiliki sabuk hitam adalah orang yang unggul dan mumpuni dalam keilmuannya dan mampu menerapkan keilmuannya pada dunia nyata. Belakangan istilah Green Belt diperkenalkan oleh General Electric.

Baik Green Belt maupun Black Belt mempunyai perbedaan dan kesamaan. Kita akan melihat dari sisi fungsi, tanggung jawab dan kualifikasinya. Continue reading “Black Belt vs Green Belt”

Menghindari Redupnya Aktivitas Perbaikan Lean Six Sigma

Lean Six Sigma Challenge - Tantangan Implementasi Six Sigma

Banyak program perbaikan, Lean Six Sigma, terlihat kuat di awal, namun tidak selamanya bertahan lama. Apa yang harus dilakukan oleh manajemen puncak untuk tetap menjaga  dan memastikan perjalanan virus perbaikan ini tetap menjalar dan berakhir kesuksesan.

Selama satu dekade terakhir, keberhasilan Lean Six Sigma telah dipubikasikan secara meluas,  metodologi DMAIC telah diadaptasi oleh berbagai macam industri adalah indikasi kesuksesan Lean Six Sigma. Namun, sedikit yang menulis tentang perusahaan – perusahaan yang gagal dalam implementasi six sigma. Satu alasan yang pasti adalah tidak semua perusahaan mau mempubilkasikan kegagalan mereka, namun fenomena Lean Six Sigma sebagai flavour of the month ini cukup serius untuk kita diskusikan.

Serupa dengan manusia program six sigma akan mengalami siklus yang dilahirkan, tumbuh, dan meninggal.

Namun jika kita mampu mempertahankan kondisi yang ada, program Lean Six Sigma akan terus tumbuh mempercepat keunggulan dan daya saing kita.

Berikut adalah 4 cara bagaimana kita mempertahankan program Lean Six Sigma:

1. Pilih Alat Ukur  yang Tepat

Banyaknya proyek six sigma atau berapa banyak Green Belt yang tersertifikasi dalam organisasi anda bukanlah tujuan dari diadakannya program six sigma. Ingat program six sigma adalah berapa banyak saving yang dihasilkan untuk perusahaan. Banyaknya jumlah proyek six sigma atau banyaknya Green Belt yang anda punya bukan jaminan bisnis dari tahun ke tahun, memang benar bahwa Green Belt adalah agen perubahan, namun mencetak agen perubahan sebanyak mungkin tanpa mendefinisikan dengan tepat apa yang akan dirubah akan membuat organisasi kehilangan fokus. Metrik utama untuk mengukur keberhasilan Six Sigma harus selalu didasarkan pada nilai bisnis kembali ke perusahaan

2. Pemilihan Proyek yang Tepat

Pemilihan proyek yang tepat adalah komponen kunci untuk keberlangsungan program Six Sigma. Proyek tidak boleh dipilih hanya untuk mendapatkan seseorang disertifikasi atau untuk membungkus DMAIC terhadap masalah yang jelas bukan proyek Six Sigma hanya untuk mendapatkan visibilitas. Karena proyek membantu menjaga momentum, Pemimpin/champion harus sangat selektif ketika menentukan proyekSix Sigma. Champion harus mampu menyeleraskan visi perusahaan terhadap KPI dan proyek-proyek Six Sigma dan mampu memvalidasi keuntungan proyek dari sisi finansialnya

3. Membangun Infrastruktur yang Kuat

Siapa yang bertanggung jawab atas keberhasilan Six Sigma dalam suatu organisasi? Bukan Black/ Green Belts. Kepemimpinan organisasi menentukan keberhasilan atau kegagalan program Lean Six Sigma ini.  Para pemimpin organisasi/ champion bertanggung jawab mengkomunikasikan harapan dan tanggung jawab untuk memilih dan pemimpin proyek menyiapkan pelatihan, manajemen harus menyediakan program dengan dasar yang kuat. Selain itu, para pemimpin harus mengevaluasi komponen dasar bisnis sebelum menerapkan Six Sigma. Misalnya, apakah organisasi memiliki kapabilitas yang cukup untuk menerapkan Lean Six Sigma? Apakah proses didokumentasikan dan dipelihara secara rutin? Apakah metrik yang digunakan sudah tepat ? Jika belum, para pemimpin mungkin memiliki beberapa pekerjaan rumah yang harus dilakukan sebelum meluncurkan Six Sigma

4. Lean Six Sigma adalah sebuah Perjalanan

Program Lean Six Sigma adalah proses yang berevolusi.  Organisasi harus mampu membuat program Lean Six Sigma bukan sesuatu yang basi setelah beberapa tahun implementasinya. Perluasan kemampuan karyawan dalam menjaga inisiatif ini tetap segar perlu dijalankan. Contohnya melibatkan Desgin for Six Sigma untuk melengkapi DMAIC, atau pengenalan baru, ide alat atau konsep, tidak ada alasan untuk menghambat pertumbuhan tubuh perbaikan terus menerus.

Itulah beberapa cara untuk menghindari redupnya aktivitas improvement di dalam Lean Six Sigma.

Meningkatkan Efisiensi Perusahaan Secara Cepat

Pada dua artikel sebelumnya kita membahas tentang definisi dan cara untuk melakukan efisiensi.  Efisiensi dilakukan sebagai salah satu bentuk perbaikan yang bertujuan untuk mengoptimalkan sumber daya.

Bagaimana di sebuah perrusahaan bisa melakukan efisiensi secara cepat?

Dalam salah satu inisiatif perbaikan dikenal istilah KAIZEN yang artinya perbaikan yang berkelanjutan. Esensi dasar dari KAIZEN adalah: sederhana dan langsung dikerjakan. KAIZEN adalah salah satu bagian kunci implementasi Lean Six Sigma. Jadi KAIZEN didefinisikan sebagai tindakan perbaikan yang dilakukan secara bertahap dan terus menerus, dimana sifat perbaikan tersebut sederhana dan bisa diselesaikan dalam waktu yang singkatLangkah-langkah yang harus dilakukan oleh perusahaan ketika akan melakukan KAIZEN adalah:

Continue reading “Meningkatkan Efisiensi Perusahaan Secara Cepat”

Project Scope

Hal yang terpenting sebelum menjalankan proyek six sigma adalah adanya kesepakatan tertulis antara pemimpin proyek (green belt atau black belt), project champion, Sponsor, Finance & Accounting, dan anggota proyek yang disebut project charter.

Project charter menceritakan tentang latar belakang permasalahan, berapa besar estimasi biaya dijalankannya proyek ini, sampai dengan keuntungan yang didapatkan jika proyek ini berhasil dijalankan, dan yang utama adalah mendefinisikan di area mana lingkup kerja proyek ini.

ketika kita berbicara tentang mendefinisikan ruang lingkup, kita berbicara tentang mengembangkan pemahaman bersama seperti apa yang termasuk dalam, atau dikecualikan dari, sebuah proyek. Setelah mendefinisikan ruang lingkup, maka biaya dan waktu pelaksanaan proyek bisa dihitung. Jika ruang lingkup salah, waktu dan biaya juga akan salah.

Kesalahan dalam menentukan batasan lingkup suatu proyek atau tidak adanya kontrol yang efektif dalam merevisi suatu charter akan mengakibatkan hal berikut:

  • Ruang lingkup terlalu luas:  Jika anda merasa bahwa komitmen dari sumber daya anda begitu kuat, dan organisasi anda sangat berkeinginan untuk melakukan perubahan  yang radikal, dan anda percaya pada kekuatan tunggal anda, sehingga anda melibatkan beberapa proses dan bagian dalam ruang lingkup kerja proyek anda. Waspadalah ini yang disebut dengan overscope. Gejala – gejala dari overscope ini adalah:
  1. Membutuhkan lebih dari tujuh anggota tim
  2. Membutuhkan berlembar-lembar kertas untuk menggambar process map
  3. Problem statement tidak jelas mengacu  pada satu isu
  4. Terdapat beberapa target (Ys)
  5. Tidak jelas titik mulai dan akhinya
  6. Melibatkan beberapa champions
  7. Membutuhkan lebih dari setahun untuk menyelesaikan project ini
  • Ruang lingkup terlalu sempit:  atau yang disebut underscope
    Gejala – gejala dari underscope ini adalah:
  1. Tidak berhubungan dengan strategi perusahaan
  2. Memberikan dampak yang tidak significant terhadap customer
  3. Project saving < Project implementation
  4. Solusi sudah jelas dan dapat segera diimplementasikan

Cara yang paling efektif dalam menentukan batasan ruang lingkup (scope) proyek adalah dengan membuat SIPOC diagram.  SIPOC diagram mempermudah kita dalam mengidentifikasi pelanggan dan kebutuhannya, setelah itu kita dapat mengetahui proses apa saja yang terlibat dalam pemenuhan kebutuhan pelanggan tersebut dan mengetahui input apa saja yang dibutuhkan untuk proses tersebut dan mengetahui siapa penyedia input tersebut. Dari SIPOC diagram tersebut kita dapat menandai awal dan akhir proses yang berada dalam lingkup kerja kita