Metodologi Six Sigma: DEFINE

Dalam beberapa artikel ke depan kita akan membahas tentang metodologi six sigma yang dikenal dengan DMAIC.  Untuk yang pertama ini, mari berkenalan dengan fase DEFINE

Langkah Utama Fase Define

Identifikasi Masalah – Pendekatan yang paling tepat untuk menemukan permasalahan yang akan dijadikan proyek six sigma adalah top-down. Jadi, Steering Committee dan Champion mengidentifikasi dan memprioritaskan area untuk proyek perbaikannya

Melengkapi Charter– Project Sponsor atau biasanya pemilik proses dan Green/Black Belt akan memperjelas ruang lingkup dan tujuan proyek dalam sebuah Continue reading “Metodologi Six Sigma: DEFINE”

Sertifikasi Six Sigma

Sertifikasi Six Sigma adalah bukti kompetensi seorang change agent dalam program improvement seperti Six Sigma atau Lean Six Sigma. Sertifikasi Six Sigma ini memiliki standar yang berbeda-beda antara 1 penyedia jasa sertifikasi dengan yang lainnya atau dari 1 consulting firm ke consulting firm lainnya.
Sertifikasi internal juga bisa berbeda-beda antar perusahaan. Salah satu badan penyedia jasa sertifikasi Six Sigma yang terbesar di dunia adalah American Society for Quality atau ASQ. Persyaratan dari ASQ umumnya adalah kandidat harus memiliki 1 project DMAIC yang selesai serta harus lulus ujian tertulis.

Di beberapa perusahaan, standar ini bisa seperti itu, bisa juga sangat ringan, misalnya cukup pelatihan 2 hari, cukup terlibat di project. Penting bagi kita untuk mengetahui kualitas dari seorang change agent yang tersertifikasi BUKAN hanya dari lembar sertifikat, tetapi juga standar si pemberi sertifikat.

Nah, apakah Anda tertarik dengan sertifikasi green belt dan black belt ini? Ingat, perhatikan kembali kredibiltitas dari pemberi sertifikat tersebut.

Organisasi Penyedia Sertifikasi Six Sigma

Untuk international certification (sertifikasi six sigma): www.asq.org (ASQ) atau untuk lokal www.sscxinternational.com (SSCX)

 

Mitos – Mitos dalam Six Sigma

Mitos atau mite (myth) adalah cerita yang dipercaya atau dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita atau penganutnya. Seperti layaknya mitos, orang lebih senang mendiskusikan dan memperdebatkannya daripada  mencari kebenarannya. Apa saja mitos yang melingkupi Six Sigma? mari kita ulas kebenarannya.

Mitos 1 : Six Sigma adalah Kerupuk yang sama dalam Toples yang berbeda

Kegiatan manusia untuk menemukan sistem yang lebih baik sudah ada sejak jaman dulu  ketika  Sloan mengembangkan sistem Continue reading “Mitos – Mitos dalam Six Sigma”

Pelatihan Six Sigma Green Belt

Pelatihan Six Sigma Green Belt kembali akan diselenggarakan oleh SSCX International pada bulan Oktober 2013. Pendaftaran sudah dapat dilakukan, untuk memastikan Anda mendapatkan biaya terrendah selama masa early bird. Hubungi SSCX di www.sscxinternational.com atau training@sscxinternational.com. Link informasi pelatihan di sini.

Apa itu Green Belt dan Black Belt?  Baca lebih lengkap di sini.

 

Pemilihan Tim yang Efektif

team-six-sigma-indonesia
Salah satu hal yang menentukan keberhasilan six sigma selain ketersediaan data yang valid dan penguasaan tool serta metodologi six sigma yang benar adalah bagaimana membentuk tim yang efektif. Ketika sebuah tim ditunjuk untuk mengerjakan suatu proyek six sigma, pertanyaan yang selalu diberikan adalah apakah mereka cukup efektif untuk memberikan hasil yang diberikan?

Dalam proyek Six Sigma yang anda pimpin, mungkin anda diberikan sumber daya  manusia terbaik di bidangnya, namun apabila anda gagal menyatukan pengetahuan, energi, semangat, dan mengelola karakter mereka masing-masing, maka usaha anda bisa berujung pada kesia-siaan, bahkan kegagalan proyek

Pengalaman membuktikan bahwa membentuk tim yang sinergi – Green Belt, Black Belt, Champion, Sponsor, dan Anggota tim – sehingga mampu bekerja secara efektif bisa lebih penting dibandingkan penguasaan  tentang alat dan metodologi six sigma.

Jika pemilihan anggota tim adalah sesuatu yang kritikal, bagaimana menentukan anggota tim?

Sampai dengan saat ini, dalam memilih anggota tim mungkin kita memilih berdasarkan intuisi atau pengamatan kita sehari-hari akan kinerja seorang individu, atau bisa juga anggota tim biasanya “dibentuk” oleh manajemen. Adakalanya juga anggota tim sifatnya suka rela, siapa saja asal mau kerja.

Ada beberapa cara untuk menentukan anggota tim, namun pendekatan yang paling tepat datang dari seorang profesor yang menghabiskan sembilan tahun penelitiannya atas manajemen tim, Dr. Meredith Belbin dari University of Cambridge.

Kesimpulan dari penelitian Dr. Belbin, dengan melihat komposisi peran yang ada dalam sebuah tim, beliau dapat memprediksi apakah tim tersebut akan sukses atau gagal. Dasar penemuannya adalah setiap individu berdasarkan sifat-sifat pribadinya, pasti mempunyai satu atau lebih “peran yang disukai” . Untuk bisa membentuk tim yang efektif, seorang pemimpin proyek harus mampu menyeimbangkan peran dari anggotanya sehingga kontribusi setiap individu akan maksimal.

Berikut adalah sembilan peran individu dalam tim menurut Dr. Belbin:

  • PL – Plant: Kreatif, Imajinatif, Tidak Umum, Menyelesaikan masalah-masalah yang sulit. Kelemahan yang diijinkan: Pelupa
  • RI – Resource Investigator: Extrovert, antusias, komunikatif, mencari peluang, mengembangkan kontak. Kelemahan yang diijinkan: terlalu optimis
  • CO – Coordinator: Dewasa, percaya diri, pimpinan yang baik. Menentukan sasaran, mendorong pengambilan keputusan, dapat mendelegasikan tugas dengan baik. Kelemahan yang diijinkan: Manipulatif
  • SH – Shaper: Menantang, dinamis, tumbuh dalam tekanan. Memiliki tekad dan keberanian dalam menyelesaikan hambatan-hambatan. Kelemahan yang diijinkan: Menyakiti perasaan, provokasi
  • ME – Monitor Evaluator: kontrol atas diri sendiri, strategis, dan mampu membuat keputusan. Melihat semua kemungkinan. Menilai secara akurat. Kelemahan yang diijinkan: tidak menginspirasi
  • TW – Team Worker: Ko-operatif, sederhana, cepat mengerti, diplomatis. Mendengar, membangun, menghindari friksi, menenangkan riak-riak dalam tim. Kelemahan yang diijinkan: mudah terpengaruh
  • IMP – Implementer: Disiplin, dapat diandalkan, konservatif, dan efisien. Mengubah ide menjadi tindakan . Kelemahan yang diijinkan: tidak fleksibel
  • CF – Completer Finisher: Teliti, penuh perhatian, tidak sabar. (Mampu) Mencari kesalahan dan kekurangan (pekerjaan). Tepat waktu. Kelemahan yang diijinkan: terlalu khawatir
  • SP – Specialist: Berpikiran tunggal, mampu memotivasi sendiri, berdedikasi. Memberikan pengetahuan dan keahlian yang jarang diketahui . Kelemahan yang diijinkan: terlalu spesialis

Plant, Monitor Evaluator, dan adalah peran yang berorientasi ke pemikiran, sementara Shaper, implementer dan Complete finisher adalah peran yang orientasinya di tindakan, sedangkan team worker, resource investigator, dan coordinator lebih berorientasi ke manusia. Memahami peran masing-masing tim akan membantu tim untuk mengevaluasi diri. Bagaimana dia berkontribusi positif terhadap efektifitas kerja tim, serta memahami dan mengisi kelemahan anggota tim yang lain.

Apabila anda sebagai pemimpin proyek memiliki hak untuk memilih anggota tim, selain kompetensi dan kemampuan analisa, anda perlu melihat distribusi orientasi peran anggota tim. Namun jika anggota tim “given”, maka tugas anda adalah menutup kelemahan terbesar dari tim ini, atau melibatkan SME (Subject Matter Expert).

Pelatihan Six Sigma yang Efektif

Setiap organisasi mempunyai tujuan bisnis agar tetap bertahan dan meningkatkan kompetisi utamanya. Six Sigma adalah sebuah inisiatif/ program yang menyeleraskan antara tujuan bisnis dengan aktivitas perbaikan. Artinya dengan six sigma bagaimana tujuan bisnis tersebut bisa dicapai dapat dijelaskan melalui berbagai inisiatif proyek perbaikan yang dijalankan.

Salah satu kunci kesuksesan program Six Sigma adalah tingkat kesuksesan proyek perbaikan. Sukses tidaknya proyek perbaikan sangat tergantung pada kemampuan pemimpin proyek (green belt maupun black belt) dalam memimpin dan mengeksekusi proyek perbaikan. Jadi, kemampuan atau kompetensi seorang pemimpin proyek mutlak dimiliki.

Program pelatihan adalah salah satu pendekatan utama untuk bisa meningkatkan kompetensi para Green/Black Belt. Mengingat betapa kritikal kompetensi ini, maka perlu dilakukan analisa menyeluruh agar dapat  merumuskan program pelatihan yang efektif.

Proses analisa ini terdiri dari 3 fase yaitu:

  • Sebelum pelatihan dilakukan (pre-training)
  • Pada saat pelatihan diberikan (during training)
  • Setelah pelatihan diberikan (after training)

Persiapan  Sebelum Pelatihan

TNA atau Training Need Analysis perlu dilakukan secara komprehensif dan menyeluruh. Continue reading “Pelatihan Six Sigma yang Efektif”

Measurement System Analysis

Measurement systems are like eyeglasses, when the lenses are incorrect, the vision is blurred. A measurement system allows us to “see” the process. When a measurement system is poor, we lose the ability to make good decisions about how to improve the process.

The IMPORTANCE of Measurement System Analysis?
– Many resources can be wasted trying to improve a process when a major source of variability is the measurement system.
– The measurement system MUST be qualified before beginning process improvement work.
– The measurement system is only one source of variability when measuring a product or process.
– The purpose of a measurement system is to better understand the sources of variation that can influence the results produced by the process under investigation.
– In the Measure Phase, the team must be able to demonstrate that the data is accurate and reliable.

One good tool to analyze the capability of our measurement system is Measurement System Analysis (MSA) also known as Gage R and R. R and R stands for Reproducibility and Repeatability.

Kaizen dalam Six Sigma

Dalam artikel sebelumnya kita membahas tentang bagaimana meningkatkan efisiensi secara cepat dengan Kaizen Blitz. Sekarang,  kita akan membahas Kaizen lebih dalam.

Dalam berbagai forum, banyak diskusi hangat tentang lebih baik mana Kaizen dengan Six Sigma?  Menurut kami, pertanyaan tersebut sama dengan ketika anda bertanya lebih bagus mana martil sama obeng? Ngga’ nyambung, karena mereka berbeda kegunaanya.

Jika anda menginginkan buah Apel. Manakah yang anda ambil terlebih dahulu? Jika anda menjawab yang di pucuk pohon kami tidak menyalahkan namun pertanyaannya adalah kenapa anda susah-susah untuk mendapatkan buah yang ada di pucuk, padahal dengan usaha yang lebih sedikit, anda bisa mendapatkan apel yang ada di bawah. Logikanya adalah, habiskan dulu yang ada di bawah, kemudian baru naik ke atas.

Begitu juga ketika organisasi anda ingin meningkatkan kinerja, berdasarkan prinsip ekonomi bagaimana dengan usaha yang sedikit kita mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya.

Menurut Masaaki Imai, esensi dari Kaizen adalah Continue reading “Kaizen dalam Six Sigma”