Lean Six Sigma Green Belt – Accelerated 6-Day Training

Date: 20-22 Mar 2012 (Week 1) and 23-25 Apr 2012 (Week 2)

Program ini mempersiapkan Anda untuk mengeksekusi proyek Lean Six Sigma dengan kompleksitas sederhana hingga menengah ataupun mendukung Black Belt dalam proyek-proyek mereka, dengan menggunakan metodologi Lean Six Sigma untuk mendorong perbaikan kunci dalam proses serta memastikan keunggulan operasional.

Tujuan utama Program Green Belt ini adalah untuk memberikan Body of Knowledge Green Belts kepada peserta, termasuk tujuan, tools, dan deliverables untuk setiap tahap DMAIC. Program ini juga akan mengajarkan kepada peserta bagaimana mengelola sebuah proyek Lean Six Sigma.

Pelatihan Six Sigma Green Belt SSCX International telah diikuti perusahaan-perusahaan seperti CIMB Niaga, ANZ Panin, Voith Paper, April, Vale INCO, BRI Syariah, Freeport Indonesia, Astra Honda Motor, dan masih banyak lagi.

Program ini akan dipandu oleh beberapa instruktur paling berpengalaman dalam Lean Six Sigma yang akan berbagi pengalaman implementasi Lean Six Sigma. Informasi lebih lanjut hubungi tim kami di +62 21 5763020.
Pelatihan ini juga dapat diselenggarakan di perusahaan Anda (in-house).

Merencanakan Pengumpulan Data

Seperti kita ketahui bersama, Six Sigma dalah metodologi perbaikan yang berbasis pada data. Memahami jenis data akan mempermudah kita untuk menentukan alat statistik apa yang kita pakai untuk mengolahnya. Data terdiri dari dua tipe, yaitu:

  • Continuous –Variabel yang terukur pada suatu produk atau proses, yang dapat dibagi sampai tidak terhingga. Contoh: waktu, ukuran, berat, temperatur, kecepatan.
  • Discrete atau Attribute – Suatu hitungan, bagian, atau persentase dari sebuah karakteristik atau kategori. Data proses jasa seringkali bersifat discrete

Setelah mengetahui tipe data, langkah selanjutnya adalah bagaimana kita mengumpulkan data tersebut. Ada pertimbangan praktis yang mempengaruhi keputusan untuk mengumpulkan data pengukuran. Seringkali tidak memungkinkan kita mengambil seluruh populasi untuk menarik suatu kesimpulan yang kita inginkan , faktor yang umum biasanya adalah biaya. Lebih baik kita mengambil beberapa sampel dari populasi tapi kita meyakini bahwa sampel tersebut bisa memprediksi secara keseluruhan. Pertimbangan lainnya adalah adanya kondisi khusus, contohnya tes destruktif, tidak mungkin kita merusak semua produk yang kita hasilkan hanya untuk mengetahui seberapa kuat produk kita.

Jadi, bagaimana cara kita menyusun rencana pengumpulan data dan menghitung besaran sampling yang sesuai? Berikut adalah langkah-langkahnya:

  1. Stratifikasi data. Mengkategorikan data berdasarkan karakteristik (faktor) yang sama. Tujuannya adalah dengan cara apa anda akan melihat data dan dengan stratifikasi anda memunculkan pola-pola kecurigaan untuk investigasi awal. Jika faktor stratifikasi tidak dibuat “di awal”, maka anda kemungkinan  harus mengulangi proses lagi nantinya. Di sisi lain, mencari terlalu banyak faktor juga akan membuat data lebih sulit untuk dikumpulkan dan biaya lebih besar
  2. Mengembangkan Definisi Operasional. Definisi Operasional adalah penjelasan yang lengkap dan tepat yang menceritakan tentang makna atau arti dari karakter yang akan kita ukur, termasuk bagaimana kita mengukurnya
  3. Identifikasi sumber data. Pertimbangkan apakah kita akan menggunakan data yang sudah ada atau mencari data baru. Pertimbangkan masalah validitas data, harga, waktu, dan trade-offnya.
  4. Mengumpulkan data. Check sheet adalah salah satu  tool statistik yang sederhana namun sangat powerful untuk mengumpulkan data.
  5. Tentukan pengambil data. Orang yang mengambil data harus memahami proses, mengerti definisi operasional, mengerti bagaimana data ditabulasi, dan yang terpenting adalah tidak bias
  6. Menentukan ukuran Sampel. Metode sampling apa yang sesuai random atau sistematik?  Tentukan juga tipe samplingnya apakah populasi atau proses? Memahami tipe data di awal, akan membantu kita menentukan berapa banyak jumlah sampling yang dibutuhkan. Karena data diskrit dan continuous sangatlah berbeda perhitungan samplenya.

Berbicara dengan data akan mempermudah kita meyakinkan manajemen dan para stakeholder, dan yang terutama adalah seberapa valid data yang kita pakai itu. Ingat Gagal merencanakan, berarti anda merencanakan kegagalan itu sendiri.

sumber gambar: http://contactsimply.com/

Metodologi Six Sigma : ANALYZE

Setelah kita mengumpulkan data, memvisualkan, mendapatkan baseline dan sigma level di fase Measure, langkah selanjutnya adalah fase Analyze. Tujuan di fase analyze ini kita akan menetapkan akar masalah (x’s) yang memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Y.

Berikut adalah langkah-langkah utama dari fase Analyze:

•  Identifikasi x (akar masalah) – langkah ini untuk mencari kemungkinkan penyebab masalah (x) yang memiliki pengaruh pada y. Pada langkah ini brainstorming adalah alat yang paling efektif, untuk mempermudah proses brainstorming, tool yang dipakai adalah: Fishbone, 5 Why, dan NGT
•   Prioritas X – langkah ini untuk mempersempit cakupan x yang akan dianalisa oleh tim. X yang akan diprioritaskan adalah yang memiliki pengaruh signifikan pada y.Tool yang dipakai untuk memprioritaskan X adalah Prioritization Matrix
•   Validasi X – Dalam memvalidasi X terdapat dua cara/ pintu, yang pertama adalah pintu proses, yang kedua adalah pintu data. Berikut penjelasannya:

Cost Reduction dengan Lean Six Sigma

Anda pasti ingat iklan komersil dengan tagline seperti judul di atas. Dalam artikel ini kami ingin bertanya hal serupa pada anda. Seberapa rendah harga produk anda bisa diturunkan saat ini?
Seiring dengan tingkat kompetisi dan arus informasi yang deras, hukum mengenai harga  telah berubah. Jika dulu persamaan untuk menentukan harga adalah biaya produksi ditambah dengan keuntungan yang kita inginkan. Contoh, jika biaya produksi dari produk kita Rp. 100 dan keuntungan yang ingin diambil sebesar 10%, maka harga produk kita adalah Rp 100 + 10% = Rp. 110.

Saat ini, penentuan harga tidak lagi di tangan produsen, namun oleh pasar. Jadi persamaan matematisnya adalah harga – biaya produksi = profit. Jadi, jika harga untuk produk kita di pasar 100, maka kita perlu menekan biaya produksi kita setidaknya Rp. 99, sehingga  keuntungan yang didapat Rp. 1. Profit yang dulu menjadi faktor bebas, sekarang menjadi faktor dependen.

Dalam praktik Lean Six Sigma, formula harga dan profit menjadi Harga – Profit = Biaya Produksi. Formula ini sangat dikenal dalam Lean Manufacturing. Kita harus mendesain proses dan produk agar dapat masuk ke dalam rentang biaya ini.

Penghematan tidak sama dengan pemotongan biaya. Organisasi yang memiliki kecenderungan Continue reading “Cost Reduction dengan Lean Six Sigma”

18 Rahasia Sukses CI di Freudenberg-NOK

Dalam sebuah artikel di Majalah Shift, “Freudenberg-NOK Tips: 18 Kunci Menuju Operational Excellence di Perusahaan Anda”, dijelaskan 18 rahasia sukses continuous improvement di perusahaannya. Michael Heidingsfelder, wakil presiden operasional di perusahaan asal Amerika Serikat yang merupakan hasil joint venture antara Freudenberg Co. dari Jerman dan NOK dari Jepang memaparkan 18 faktor tersebut, yang  tidak harus diikuti secara berurutan, karena mereka “…berkembang dari waktu-ke waktu,…” kata Heidingsfelder.

Kedelapan belas kunci tersebut adalah:

1) Top down. Manajemen harus terlibat dalam Continue reading “18 Rahasia Sukses CI di Freudenberg-NOK”

Menjual Aktivitas Improvement pada Karyawan

Kita semua pasti sudah pernah membaca berita tentang bagaimana perusahaan-perusahaan dunia jatuh bangun dan tutup karena ketidak mampuan untuk bertahan hidup. Saat ini, dengan persaingan industri yang semakin ketat dan arus informasi yang deras, pelanggan mempunyai banyak preferensi untuk memilih produk yang diinginkannya

Maka, dengan alasan di atas organisasi berlomba-lomba meningkatkan daya saingnya dengan menerapkan sistem manajemen perbaikan. Namun, sebagus apapu sistem perbaikan yang akan diterapkan tidak akan berhasil bila belum meyakinkan para karyawan akan pentingnya perubahan tersebut.

Sebagai penggiat perubahan untuk perbaikan di organisasi, anda pasti akan menemukan hambatan yang umum dihadapi, yaitu membuat orang lain untuk “membeli” program yang digagas. Pertanyaan yang sama akan selalu terulang : Apa untungnya buat saya?

Untuk bisa menjawab pertanyaan tersebut, berikut adalah tips untuk anda:

Jangan gunakan bahasa aliens. Seperti pada artikel sebelumnya, jika organisasi anda bukan manufaktur atau PMA dari Jepang, penggunaan istilah bahasa Jepang  atau yang berhubungan dengan statistik akan membuat karyawan anda ilfeel. Carilah padanan kata yang sesuai dengan bidang organisasi anda. Kreatiflah dalam mengkomunikasikan jargon-jargon yang ada.

Berbicara dengan data dan fakta. Menggunakan data dan fakta akan mempermudah anda dalam “menjual”. Argumentasi anda akan lebih valid dan tidak terbantahkan. Untuk itu, manajemen data sangat penting untuk dilakukan ketika organisasi anda memulai inisiatif perbaikan.

Hal yang perlu diperhatikan dalam manajemen data adalah dari mana data tersebut diperoleh, hal ini meliputi sumber data, orang yang mengumpulkan data, dan teknik pengumpulan datanya.  Yang kedua adalah Continue reading “Menjual Aktivitas Improvement pada Karyawan”

Efisiensi dan Process Improvement

Makhluk hidup apa yang paling sukses dalam beradaptasi terhadap perubahan?

Yang mampu beradaptasi dengan seleksi alam?

Diperkirakan makhluk ini sudah ada sejak 3,5 Milyar tahun yang lalu, dan akan tetap ada meskipun (mungkin) nanti matahari meledak dan menghilang?

Jawabannya adalah :Bakteri.

Bakteri hidup dan berkembang biak dengan menggunakan satu-satunya sel yang dia miliki, tidak seperti makhluk hidup yang lain, dengan sel tersebut bakteri mampu bertahan hidup di mana saja tanpa matahari/ penerangan sekalipun.

Karena kemampuannya tersebut, bisa dikatakan bahwa bakteri adalah makhluk hidup yang sangat efisien.

Efisiensi adalah salah satu cara untuk bisa bertahan hidup. Dalam prinsip organisasi, efisiensi diperlukan untuk bisa memenangkan persaingan. Efisiensi adalah Continue reading “Efisiensi dan Process Improvement”

Memahami Prinsip Pareto

Untuk waktu yang lama, Hukum Pareto telah mengacaukan prospek ekonomi seperti sebuah penghalang yang senantiasa berpindah dalam sebuah lanskap: sebuah hukum empiris yang tidak seorangpun dapat menjelaskannya – Josef Steindl

Pada tahun 1897 seorang ekonom berkebangsaan Italia, Vilfredo Pareto, sedang melakukan penelitian tentang pola kekayaan dan pendapatan pada abad 19 di Inggris. Ia menemukan bahwa sebagian besar pendapatan dan kekayaan hanya dinikmati oleh kelompok minoritas dalam sampel penelitiannya. Ia juga menemukan dua fakta penting lainnya yaitu: Pertama, ada hubungan matematis yang konsisten antara proporsi orang dengan jumlah kekayaannya. Contohnya:  jika 20% populasi menikmati 80% kekayaan, maka dapat diprediksi bahwa 10% penduduk menikmati 65% kekayaan, dan 5% akan mendapatkan 50% kekayaan. Hal ini yang disebut oleh Pareto sebagai predictability unbalanced atau ketidakseimbangan distribusi kekayaan yang dapat diprediksi

Penemuan Pareto lainnya adalah pola ketidakseimbangan ini berulang secara konsisten dengan pola yang sama, kontinyu, dan memiliki ketepatan matematis pada negara lain dal dalam kurun waktu yang lama.

Prinsip Pareto dipakai secara luas pada tahun 1950-1990, dipelopori oleh Guru kualitas kelahiran Rumania Joseph Moses Juran. Ide hebatnya adalah menggunakan prinsip Pareto bersama dengan metode statistik lain untuk menghilangkan cacat kualitas dan meningkatkan keandalan. Dalam bukunya Quality Control Handbook yang terbit pada tahun 1951 menjelaskan bahwa Prinsip Pareto tentang ketidakseimbangan yang berlaku pada distribusi kekayaan, berlaku pula pada distribusi hilangnya kualitas. Tidak banyak yang percaya pada teori Juran di AS waktu itu, sampai dia diundang oleh konsorsium industri  Jepang untuk memaparkan teorinya dan menetap di sana untuk mengubah nilai dan kualitas produk mereka, itulah awal dari revolusi kualitas secara global.

Alasan kenapa kita perlu memahami prinsip Pareto karena prinsip ini bertentangan dengan intuisi kita, kita cenderung berharap bahwa semua penyebab sama pentingnya, semua konsumen adalah sederajat! Kita pernah melihat usaha pemerintah untuk meratakan pendapatan, namun ketidaksetaraan yang dihilangkan di satu tempat akan muncul di tempat lainnya. Perlu kita pahami hal ini adalah suatu bentuk kewajaran.

Jadi, dengan memahami dan memanfaatkan prinsip Pareto dalam kehidupan kita, maka kita akan  berusaha menjadi yang terbaik dalam sedikit hal, daripada menjadi baik dalam banyak hal dan kita akan berusaha untuk bekerja lebih sedikit untuk mencapai beberapa tujuan yang paling berharga daripada mengejar setiap peluang yang ada.